Bagaimana Ekraf Sebaiknya Tumbuh?
Oleh : Hafshoh Mubarak
Setiap kali ekonomi kreatif daerah dibicarakan, kita mudah menemukan bentuk kegiatannya: festival, bazar, pelatihan, lomba, hingga pameran. Ruang publik menjadi ramai, pelaku kreatif mendapatkan panggung, dan produk lokal diperkenalkan. Semua itu bisa berguna. Tetapi ada satu pertanyaan yang perlu dibawa lebih jauh: setelah acaranya selesai, apakah ekonominya ikut tumbuh?
Pertanyaan ini mengubah cara kita melihat sebuah kegiatan. Festival bisa menghadirkan keramaian, bazar bisa menghasilkan transaksi, pelatihan bisa menambah pengetahuan, dan pameran bisa membuka pertemuan baru. Namun, apa yang terjadi setelahnya? Apakah pelaku mendapatkan pasar baru? Apakah kapasitas produksinya meningkat? Apakah akses pembiayaan menjadi lebih terbuka? Atau semuanya berhenti ketika kegiatan selesai?
Persoalan ekonomi kreatif di daerah bukan semata-mata kekurangan program. Justru, banyak program dapat berdiri sendiri. Karena itu, yang perlu dilihat bukan hanya “produk unggulan daerah kami apa?”, tetapi juga siapa pelakunya, berapa omzetnya, siapa pembelinya, apa hambatan produksinya, siapa yang membiayai, dan pasar akhirnya berada di mana.
Cara melihat ini membawa kita dari pertanyaan tentang kegiatan menuju ekosistem.
Ekonomi kreatif tidak hanya terdiri dari produk atau karya yang terlihat. Di belakangnya ada talent, bahan baku, produksi, pengolahan, agregasi, distribusi, hingga pasar. Jika bagian-bagian tersebut berjalan sendiri-sendiri, sebuah potensi bisa terhenti di tengah jalan.
Konteks kebijakan nasional membuat pembicaraan ini semakin relevan. Perpres No. 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 menjadi pedoman bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengembangan ekonomi kreatif. Rindekraf (Rencana Induk Ekonomi Kreatif) mencakup arah kebijakan, sasaran, strategi, pemangku kepentingan, serta pelaksanaan melalui rencana aksi secara bertahap.
Di titik ini, pemetaan menjadi penting.
Tidak semua daerah harus mengembangkan semua subsektor. Tidak semua kota harus memiliki festival sendiri. Yang perlu diketahui justru: daerah ini kuat di bagian mana dalam rantai ekonomi kreatif?
Rantai tersebut dapat dilihat sebagai:
Talent & bahan baku → Produksi → Pengolahan → Agregasi → Distribusi → Pasar.
Satu daerah mungkin memiliki kekuatan pada produksi, sementara daerah lain memiliki akses distribusi atau pasar. Jika kekuatan tersebut dipetakan, masing-masing daerah tidak harus melakukan semuanya sendiri. Yang menjadi penting adalah bagaimana bagian-bagian tersebut saling terhubung.
Pemetaan juga membuat kebutuhan pelaku menjadi lebih terlihat. Pelaku yang baru memulai mungkin membutuhkan penguatan dasar usaha, produksi, legalitas, dan branding. Pelaku yang sedang berkembang membutuhkan manajemen, kualitas, pembiayaan, dan pemasaran. Sementara mereka yang siap ekspansi mungkin membutuhkan distribusi, investasi, standardisasi, kekayaan intelektual, dan akses pasar yang lebih besar.
Dengan begitu, program tidak berhenti sebagai kegiatan. Ada kemungkinan sebuah kegiatan menjadi bagian dari perjalanan pelaku menuju tahap berikutnya.
Perspektif ini juga mengubah cara melihat peran pemerintah daerah.
Pada akhirnya, pemerintah tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Perannya dapat menjadi regulator, fasilitator, connector, dan enabler, menciptakan kondisi agar industri lebih mudah bergerak, mempertemukan aktor, dan membantu membangun hubungan dalam ekosistem.
Kerangka penyelenggaraan ekonomi kreatif di daerah sendiri mencakup hal yang lebih luas daripada kegiatan, antara lain perencanaan, pengembangan ekosistem, fasilitasi kekayaan intelektual, infrastruktur, penguatan kelembagaan, sistem informasi, serta pendanaan dan pembiayaan.
Maka, setelah sebuah kegiatan selesai, mungkin justru ada pekerjaan yang lebih penting untuk dilihat.
Data perlu dibaca kembali. Pelaku perlu dipetakan. Hambatan perlu ditemukan. Hubungan antar aktor perlu dicari. Pasar perlu dilihat lebih jauh.
Jika satu daerah sudah mengetahui siapa pelakunya, apa kekuatannya, apa hambatannya, dan ke mana pasarnya bergerak, apa yang seharusnya dilakukan setelah itu?
Apakah program berikutnya kembali dimulai dari nol?
Atau melanjutkan sesuatu yang sudah tumbuh?
Dan jika satu daerah kuat di produksi sementara daerah lain memiliki akses pasar, apa yang mungkin terjadi ketika keduanya mulai melihat dirinya sebagai bagian dari satu rantai, bukan dua program yang berjalan sendiri-sendiri?
Mungkin pertanyaan tentang ekonomi kreatif daerah memang perlu bergeser: dari berapa banyak kegiatan yang berhasil dibuat, menjadi apa yang masih bergerak setelah kegiatan itu selesai.
Karena ketika panggung sudah dibongkar, mungkin justru saat itulah kita bisa melihat apakah sebuah ekosistem benar-benar mulai bekerja.





