Dari Batavia ke Dili: Perjalanan Panjang 280 Tahun Pegadaian Melintasi Zaman
PT Pegadaian mencatat tonggak sejarah baru dengan membuka kantor cabang internasional pertamanya di Dili, Timor Leste, pada 30 Maret 2026. Langkah ekspansi ini menjadi babak puncak dari perjalanan panjang lembaga keuangan tersebut, yang bermula dari era VOC di Batavia pada 1746 hingga bertransformasi menjadi pilar inklusi keuangan modern.
Kehadiran kantor di Grand Diocese Colmera Complex, Dili, bukan sekadar urusan bisnis. Bagi Pegadaian, ini adalah perayaan filosofis atas eksistensinya yang telah mencapai usia 125 tahun sejak pendirian Pegadaian Negara di Sukabumi pada 1901, atau 280 tahun jika ditarik kembali ke akar pendirian Bank Van Leening di Batavia.
Akar dari Era Kongsi Dagang
Sejarah panjang ini dimulai pada 20 Agustus 1746, saat Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff mendirikan Bank Van Leening di Batavia. Kala itu, bank tersebut dibentuk dengan modal gabungan antara VOC dan pihak swasta sebesar f 7.500.000. Fokusnya kala itu adalah melayani peminjaman uang dengan jaminan barang bergerak seperti emas, perak, dan perabotan rumah tangga bagi warga di Batavia.
Seiring pergantian zaman dan kekuasaan—dari masa kolonial Belanda, pendudukan Inggris, hingga era Jepang—lembaga ini terus beradaptasi. Setelah sempat mengalami masa kelam di bawah praktik rentenir era lisensi, pemerintah akhirnya memonopoli usaha ini pada 1901. Statusnya pun terus berevolusi hingga menjadi Persero pada 2011, namun tetap menjaga fungsi utamanya: menyediakan akses tunai cepat bagi masyarakat.
Misi Inklusi di Timor Leste
Ekspansi ke Timor Leste membawa misi besar untuk meningkatkan literasi keuangan. Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menyatakan bahwa layanan ini dirancang khusus untuk memenuhi karakteristik kebutuhan masyarakat lokal, terutama pelaku UMKM yang selama ini sulit menjangkau perbankan formal.
Hasilnya pun impresif. Dalam dua bulan beroperasi, cabang Dili telah memproses lebih dari 600 transaksi dengan total omset pembiayaan mencapai USD 329.882. Sebagai bentuk komitmen sosial, Pegadaian juga meluncurkan program “Gadai Peduli,” yakni pinjaman tanpa bunga hingga USD 100 bagi warga yang membutuhkan biaya mendesak, seperti pendidikan dan kesehatan.
Transformasi Instrumen Penjajahan
Terdapat ironi historis dalam perjalanan ini. Lembaga yang lahir dari mesin ekonomi kolonial VOC, yang dulunya dirancang untuk memperkuat hegemoni perdagangan bangsa Eropa di Nusantara, kini telah bermetamorfosis menjadi instrumen pemberdayaan rakyat.
Dari Batavia di masa kolonial hingga Dili yang merdeka, Pegadaian telah menempuh perjalanan yang penuh tikungan tajam. Namun, arah lembaga ini kini telah jelas: bukan lagi sebagai alat untuk melayani kepentingan penguasa, melainkan sebagai penopang ekonomi bagi masyarakat yang paling membutuhkan akses keuangan di kawasan Asia Tenggara.
Sumber Referensi:
- Tempo.co | “Menjelang Pegadaian 124 Tahun di Indonesia, Sejarahnya Dimulai Sejak Zaman VOC.”
- CNBC Indonesia (2019) | “Cikal Bakal Pegadaian di Indonesia.”
- PT Pegadaian (2026) | “Langkah Awal Ekspansi Global: Pegadaian Timor Leste Catatkan Kinerja Gemilang.”
- National Geographic Indonesia | “Bank van Lening di Batavia, Pegadaian Pertama di Asia Tenggara.”




