Di Balik Kedalaman 12 Meter: Kisah Swietenia Puspa Lestari Melawan Limbah Laut
Sebuah pengalaman tak terlupakan saat menyelam di Kepulauan Seribu mengubah perspektif Swietenia Puspa Lestari tentang tanggung jawab lingkungan. Dari rasa resah melihat seekor ikan terlilit plastik, ia kini menggerakkan ribuan relawan di 15 kota untuk menjaga laut Indonesia.
Dua belas meter di bawah permukaan laut, sepuluh tahun silam, Swietenia Puspa Lestari (Tenia) menyaksikan pemandangan yang mengusik nuraninya: seekor ikan yang berenang linglung karena terjerat kantong plastik. Ia segera membebaskan ikan tersebut, namun ia sadar bahwa tindakannya hanyalah solusi sementara di tengah lautan yang kian terkepung limbah.
“Saya pikir, ini pasti ada yang urus. Pemerintah, NGO besar, entah siapa. Tapi lama-lama saya sadar: semua orang pikir itu tugas orang lain,” kenang Tenia.
Menolak Diam, Memulai Gerakan
Keresahan tersebut mendorong Tenia mendirikan Divers Clean Action (DCA) pada November 2016. Tanpa dukungan dana besar atau struktur organisasi yang rumit di awal, ia mengajak sesama penyelam untuk turun langsung melakukan aksi bersih laut. Baginya, mereka yang melihat kerusakan secara langsung di bawah air memiliki tanggung jawab moral untuk memimpin perubahan.
Tantangan di awal perjalanan tidaklah ringan. Banyak orang skeptis dan menganggap aksi memungut sampah di laut adalah tindakan sia-sia. Namun, Tenia tidak bergeming. Ia terus mendokumentasikan setiap aksi dan mengajak publik melihat realitas kerusakan laut dengan mata kepala sendiri.
Dari Aksi Komunitas ke Kebijakan Nasional
Kegigihan Tenia membuahkan hasil yang signifikan. Saat ini, DCA telah tumbuh menjadi jaringan relawan yang melibatkan lebih dari 1.024 orang aktif di 15 kota di seluruh Indonesia. Tercatat lebih dari 64 ton sampah telah diangkat dari kawasan Kepulauan Seribu melalui gerakan ini.
Dampaknya bahkan menembus ranah kebijakan. Kini, gerakan yang ia rintis telah menjadi bagian integral dari Rencana Aksi Nasional Sampah Laut 2025. Bagi Tenia, keberhasilan ini membuktikan bahwa permasalahan sampah bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pergeseran mentalitas masyarakat.
“Yang paling susah bukan mengangkat sampahnya. Yang paling susah adalah mengubah cara orang melihat masalah ini—dari ‘bukan urusan saya’ menjadi ‘ini juga urusan saya’,” tegas Tenia.
Laut sebagai Rumah Bersama
Meskipun tantangan polusi laut masih sangat besar dan sampah terus datang terbawa arus, perubahan nyata mulai terlihat di lapangan. Pantai-pantai yang dulunya terabaikan kini memiliki jadwal aksi bersih rutin yang melibatkan komunitas lokal dan generasi muda.
Tenia tidak melihat dirinya sebagai pahlawan, melainkan individu yang memilih untuk tidak berpangku tangan. Di kedalaman laut yang sama, ia kini tidak lagi berjuang sendirian; ada ribuan orang yang memiliki visi serupa, memastikan bahwa laut tetap menjadi rumah yang lestari bagi penghuninya.
Sumber Referensi:
- Media Indonesia (2025). Swietenia Puspa Lestari: Dedikasi untuk Laut Indonesia.
- Green Network Asia (2025). Wawancara Eksklusif: Divers Clean Action.
- PTALI.org (2025). Inspirasi dari Tokoh Lingkungan: Menggerakkan Perubahan.




