Dari Ngaji ke Art Book: SkeNU Ubah Pengalaman Shalat Jadi Refleksi “Teknologi Diri”
Berawal dari catatan dan percakapan selama mengaji di Pesantren Budaya Kaliopak, sekelompok anak muda Yogyakarta mengubah pengalaman spiritual mereka menjadi sebuah buku tentang shalat. Karya SkeNU tidak hadir sebagai buku fikih formal, melainkan catatan reflektif yang memadukan pengalaman beragama dengan bahasa visual generasi kreatif.
Buku tentang shalat biasanya berisi urutan gerakan, bacaan, syarat, hingga penjelasan hukum ibadah. Namun, komunitas anak muda SkeNU Yogyakarta memilih pendekatan berbeda. Mereka menerbitkan buku yang berangkat dari pengalaman mengikuti pengajian, lalu mengolahnya menjadi catatan personal tentang bagaimana shalat dipahami dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut NU Online Jabar, gagasan buku tersebut tumbuh dari pengalaman anggota SkeNU ketika belajar di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak di bawah bimbingan Kiai Jadul. Buku yang mulai diperkenalkan sekitar Maret 2026 itu kemudian mendapat perhatian luas setelah beredar di media sosial.
Ketika Hasil Ngaji Tidak Berhenti Menjadi Catatan
Inisiator sekaligus Koordinator SkeNU, Doel Rohman, menjelaskan bahwa proyek tersebut pada awalnya hanya dimaksudkan untuk menyimpan hasil pengajian yang mereka ikuti. Dari proses itu, muncul gagasan untuk membaca shalat bukan sekadar sebagai rutinitas ritual, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan personal dengan kehidupan seseorang.
“Naskah ini awalnya sekadar ingin mendokumentasikan hasil pengajian kami selama belajar di pondok,” ujar Doel sebagaimana dikutip NU Online Jabar.
Dalam proses belajarnya, SkeNU menemukan cara untuk membicarakan shalat melalui istilah yang cukup tidak biasa, yakni “teknologi diri”. Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana ibadah dapat dipahami sebagai proses membentuk keteraturan diri sekaligus hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.
Pendekatan seperti ini membuat buku tidak bergerak dari pertanyaan tentang benar atau salahnya suatu gerakan, tetapi lebih jauh pada pertanyaan mengapa seseorang shalat dan apa yang terjadi pada dirinya ketika ibadah tersebut benar-benar dihayati.
Seni dan Agama Bertemu di Kaliopak
Pilihan pendekatan SkeNU tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat mereka belajar. Pesantren Budaya Kaliopak di Yogyakarta dikenal memiliki hubungan erat dengan seni dan kebudayaan. Di bawah pengasuhan Muhammad Jadul Maula, pesantren tersebut mengembangkan berbagai kegiatan yang mempertemukan pengajian dengan sastra, seni pertunjukan, musik, dan diskusi kebudayaan.
Model semacam itu membuat agama tidak hanya dibahas melalui teks, tetapi juga melalui pengalaman budaya. Bagi anggota SkeNU yang sebagian besar memiliki latar belakang pekerjaan kreatif, lingkungan tersebut kemudian menyediakan ruang untuk menerjemahkan pengalaman mengaji ke dalam medium yang mereka pahami.
Buku akhirnya menjadi pertemuan antara dua dunia tersebut: tradisi pengajian dan budaya visual.
Dibangun Seperti Proyek Kreatif
Proses produksi buku juga dikerjakan menggunakan sumber daya internal komunitas. Naskah disusun oleh Doel, kemudian melewati proses penyuntingan sebelum diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Iqbal Mastermind mengerjakan ilustrasi, sementara Nabil menangani tata letak hingga materi siap dicetak.
Pendekatan ini membuat visual tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi. Ilustrasi, tipografi, dan komposisi halaman menjadi bagian dari cara mereka menyampaikan pengalaman spiritual kepada pembaca.
Karena itu, hasil akhirnya lebih dekat dengan praktik art book atau penerbitan independen dibandingkan buku panduan ibadah konvensional. Buku diperlakukan sebagai medium pengalaman, bukan sekadar wadah teks.
Bukan Buku Fikih dan Tidak Mengklaim Mengajari
SkeNU juga memberikan batas yang cukup jelas terhadap posisi buku mereka. Karya tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti kitab fikih, buku tuntunan ibadah, atau rujukan formal mengenai tata cara shalat.
“Isinya enggak kaku seperti buku fikih formal,” kata Doel. Menurutnya, buku tersebut lebih diarahkan untuk mengajak pembaca memahami kembali makna dan signifikansi shalat bagi dirinya sendiri.
SkeNU bahkan sengaja tidak membangun proyek itu sebagai karya yang mengklaim otoritas keagamaan. Kontennya berasal dari interpretasi pengalaman belajar yang kemudian dicatat dan dibagikan kembali.
Perbedaan tersebut menjadi penting. Menjelaskan hukum dan tata cara shalat merupakan wilayah keilmuan fikih, sementara buku SkeNU berada pada wilayah refleksi pengalaman. Ia tidak mencoba menentukan bagaimana orang lain harus beribadah, melainkan menunjukkan bagaimana sekelompok anak muda memikirkan kembali ibadah yang mereka jalani.
Dari Proyek Internal Menjadi Percakapan Publik
Awalnya, buku tersebut hanya dimaksudkan sebagai dokumentasi proses belajar komunitas. SkeNU tidak merancangnya sebagai produk yang harus mendapatkan perhatian publik dalam skala besar. Namun, ketika buku diperkenalkan dalam ekosistem penerbitan independen dan visualnya beredar di media sosial, respons pembaca berkembang lebih jauh dari dugaan mereka.
“Pertama tentu terkejut dan tidak menyangka akan sejauh ini,” ujar Doel. Ia menegaskan bahwa buku tersebut bukan dibuat untuk mengajari orang lain, melainkan untuk merekam perjalanan belajar mereka sendiri.
Respons tersebut menunjukkan bahwa pendekatan terhadap literasi agama tidak selalu harus hadir melalui bentuk yang sama. Generasi yang tumbuh bersama desain grafis, media sosial, musik, dan budaya visual dapat bertemu dengan tradisi keagamaan tanpa harus meninggalkan bahasa kreatif yang sudah mereka gunakan sehari-hari.
Ketika Generasi Baru Mencari Bahasa Sendiri
Kehadiran buku SkeNU memperlihatkan bagaimana pengetahuan agama dapat bergerak dari ruang pengajian menuju medium yang lebih dekat dengan generasi muda. Tradisinya tidak dibuang, tetapi dibaca kembali melalui ilustrasi, desain, penerbitan independen, dan bahasa reflektif.
Di tengah banjir konten agama dalam format video pendek dan potongan kalimat di media sosial, SkeNU justru memilih medium yang jauh lebih lama hidup: buku. Hanya bentuk penyampaiannya yang berubah.
Dari ruang ngaji di Kaliopak menuju meja ilustrator dan halaman cetak, proyek tersebut memperlihatkan bahwa sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika generasi berikutnya tidak hanya mewarisinya, tetapi juga berusaha memahami dan menerjemahkannya dengan bahasa mereka sendiri.
Sumber Referensi:
- NU Online Jabar (2026). Anak Skena Jogja Bikin Buku Panduan Shalat, Ubah Pengalaman Ngaji Jadi “Teknologi Diri”.
- UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kajian mengenai Pondok Pesantren Budaya Kaliopak dan praktik Islam berkebudayaan.
- NU Online. Kajian mengenai dakwah melalui seni dan budaya di lingkungan Pesantren Budaya Kaliopak.





