Nasirun dan Warisan Tarekat: Ketika Spiritualitas Menyusup ke Dalam Kanvas
Di balik kanvas Nasirun yang penuh warna, wayang, rajah, kaligrafi, dan figur-figur ganjil, terdapat dunia keluarga yang jarang ia bicarakan terbuka. Ayah dan saudara-saudaranya hidup dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sementara ibunya tumbuh dalam Sunda Wiwitan. Dua warisan spiritual itu menjadi salah satu pintu membaca perjalanan seniman asal Cilacap tersebut.
Nasirun bukan seniman yang mudah dimasukkan ke satu kotak. Lukisannya dapat dipenuhi wayang, makhluk menyerupai bhuto, rajah, kaligrafi, motif batik, hingga bentuk yang terasa dekat dengan grafiti dan seni populer. Semuanya bertumpuk dalam warna dan tekstur yang padat, seolah satu bidang kanvas tidak pernah cukup untuk menampung seluruh dunia yang ingin ia bicarakan.
Di balik bahasa visual yang demikian ramai, ada lapisan kehidupan yang justru lama disimpan dalam wilayah privat: tradisi spiritual keluarganya. Hasan Basri Marwah, penulis dan pemerhati budaya yang mengenal Nasirun secara pribadi, menulis bahwa ayah dan sejumlah saudara Nasirun merupakan pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) melalui jalur KH Bustamul Karim. Nasirun sendiri justru cenderung menghindari pembicaraan mengenai hal itu dan berulang kali mengatakan bahwa dirinya bukan pengamal tarekat.
Jarak itulah yang membuat kisah ini menarik. Tarekat tidak perlu ditempelkan sebagai identitas formal kepada Nasirun untuk melihat bahwa lingkungan tempat ia tumbuh ikut membentuk caranya memahami hidup.
Tumbuh di Lingkungan Santri, tetapi Tidak Gemar Memamerkannya
Ayah Nasirun bernama Sanrustan. Dalam ingatan keluarga yang dituturkan kepada Hasan, ia merupakan murid senior KH Bustamul Karim atau Mbah Bustam dan disebut sebagai salah seorang khalifah TQN dalam jalur tersebut. Keluarga dari pihak ayah dengan demikian tumbuh kuat dalam tradisi santri.
Mbah Bustam sendiri merupakan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang lahir di wilayah Kebumen pada 1890 dan meninggal di Lampung pada 1971. Dalam tulisan Hasan, praktik spiritual Mbah Bustam tidak berhenti pada ritual individual. Murid-muridnya juga diarahkan untuk bekerja, membangun sumur, mendirikan masjid, dan menjalani kehidupan biasa tanpa mengejar popularitas.
Nasirun kecil pernah menyaksikan langsung sebagian tradisi itu. Ia mengingat dirinya berpura-pura tidur di depan mushala ketika Mbah Bustam berzikir hingga menjelang subuh. Pengalaman seperti ini tidak serta-merta membuat Nasirun kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai pengamal tarekat. Justru sebaliknya, ia lebih sering memilih diam mengenai bagian tersebut.
Dalam salah satu percakapan pribadi pada sekitar 2017, Nasirun bahkan merendahkan dirinya ketika membicarakan keberhasilan yang datang kemudian.
“Alam bekerja karena doa orang saleh,” katanya kepada Hasan.
Pernyataan itu memperlihatkan cara Nasirun membaca keberhasilan. Penjualan lukisan, pertemuan dengan kolektor asing, dan pengakuan dunia seni tidak seluruhnya ia tempatkan sebagai hasil kemampuan individual. Ada ruang bagi sesuatu yang tidak dapat dihitung oleh logika pasar seni.
Tarekat Mengajarkan Kerja, Bukan Menjauh dari Dunia
Salah satu ajaran Mbah Bustam yang paling menarik adalah konsep “maqom kasbi”, yakni kewajiban bekerja dan mencari kehidupan melalui keringat sendiri. Pengikutnya tidak diarahkan meninggalkan dunia, tetapi hidup di dalamnya tanpa membiarkan diri sepenuhnya dikuasai oleh kekayaan dan popularitas.
Pola tersebut terlihat dalam kisah keluarga Nasirun. Setelah kariernya sebagai pelukis berkembang dan kondisi ekonominya membaik, ia kerap membelikan barang untuk saudara-saudaranya yang tinggal di berbagai wilayah Sumatra. Namun, banyak pemberian tersebut justru tidak digunakan. Bagi saudara-saudaranya, kemapanan Nasirun bukan alasan untuk mengubah cara hidup mereka.
Ada pula prinsip lain yang terasa hampir berlawanan dengan mekanisme dunia seni kontemporer: tidak mengejar popularitas. Hasan menulis bahwa para murid Mbah Bustam justru diminta hidup biasa dan tidak menampilkan kesalehan sebagai identitas publik. Bahkan mereka yang memiliki pengetahuan agama tidak otomatis membuka pengajian atau membangun reputasi sebagai tokoh.
Nasirun tentu kemudian menjadi pelukis terkenal. Karyanya dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, dikoleksi, diperdagangkan, dan dibicarakan dalam dunia seni. Profil resmi Anugerah Kebudayaan DIY mencatat perjalanan panjangnya sejak pendidikan di SMSR dan ISI Yogyakarta hingga berbagai pameran besar. Pemerintah DIY sendiri menempatkan Nasirun sebagai penerima Anugerah Kebudayaan kategori pelaku seni pada 2020.
Namun, ketenaran tersebut tidak otomatis menghapus jejak nilai yang dibawanya sejak rumah.
Ibunya Membawa Dunia Spiritual yang Berbeda
Jika jalur ayah membawa Nasirun kepada tradisi santri dan TQN, sosok ibunya memperkenalkan lapisan spiritual lain. Supiyah, ibunda Nasirun, disebut berasal dari tradisi Sunda Wiwitan dan bertahun-tahun mempertahankan keyakinan serta kebiasaan tersebut. Ayah Nasirun menikahinya tanpa meminta Supiyah meninggalkan tradisinya.
Pengaruh sang ibu kepada Nasirun sangat kuat. Hasan menggambarkannya sebagai sosok yang hampir tidak pernah dibantah Nasirun dan berulang kali disebutnya sebagai perempuan yang istimewa.
Hubungan itu kemudian masuk secara nyata ke dalam sejarah seni Nasirun melalui pameran Salam Bekti pada 2009. Arsip Indonesian Visual Art Archive dan profil Pemerintah DIY mencatat pameran tersebut sebagai salah satu pameran tunggal penting Nasirun di Sangkring Art Space, Yogyakarta.
Dalam catatan Hasan, pada pembukaan pameran itu Nasirun datang dengan sepeda ontel, mengenakan kopiah, sarung, dan seragam Ma’arif NU. Ia seperti sengaja mempertemukan berbagai identitas yang hidup bersamaan dalam dirinya.
Catatan galeri Mizuma juga menempatkan Salam Bekti dalam rekam pameran tunggal Nasirun, bersama pameran internasionalnya seperti The Breath of Nasirun: Metamorphosis of Tradition di Jepang.
Tradisi Tidak Disalin, tetapi Dicerna
Menariknya, pengaruh tradisi pada karya Nasirun tidak tampil seperti ilustrasi buku sejarah. Ia tidak sekadar memindahkan bentuk wayang atau rajah ke kanvas lalu selesai.
Hasan membaca proses kreatif Nasirun sebagai semacam praktik “memetik”: mengambil simbol, bentuk, dan energi dari berbagai tradisi lalu mengolahnya kembali dalam sistem visual yang baru. Wayang, kaligrafi Jawa, rajah mistis, figur menyeramkan, motif batik, hingga unsur seni modern dapat hadir bersamaan tanpa batas yang rapi.
Pembacaan tersebut memiliki titik temu dengan profil resmi Pemerintah DIY. Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan ide, bentuk, dan warna karya Nasirun tumbuh dari pemahaman terhadap kepercayaan, legenda, mitologi, serta unsur seni tradisional yang kemudian dipertemukan dengan kenyataan sehari-hari.
Koleksi National Heritage Board Singapura bahkan menggambarkan karya Nasirun melalui hubungan dengan kosmologi mistik Islam-Jawa. Dalam karya seperti Wayang Multinational, aspek tradisi dan moralitas metafisis disebut menjadi bagian dari lapisan visualnya.
Dengan begitu, membaca spiritualitas dalam karya Nasirun tidak harus berarti mencari simbol agama secara literal. Pengaruhnya dapat muncul sebagai cara memperlakukan dunia: bahwa realitas tidak selalu dapat dijelaskan melalui logika tunggal.
Kanvas yang Seolah Tak Mau Menyisakan Ruang Kosong
Salah satu karakter paling mudah dikenali dari karya Nasirun adalah kepadatannya. Banyak bidang lukisannya dipenuhi tumpukan bentuk, garis, figur, tulisan, tekstur, dan warna yang saling bertabrakan.
Hasan menyebut kecenderungan itu sebagai compulsive visual accumulation dan menghubungkannya dengan konsep horror vacui, ketakutan atau keengganan menyisakan ruang kosong. Dalam pembacaannya, kanvas Nasirun terasa seperti tempat berbagai pengetahuan yang berbeda dipaksa hidup berdampingan.
Karya Mitos dan Legenda Alas Pasetran Gondo Mayit dari 2002, misalnya, digambarkan memiliki lapisan cat tebal, benturan warna, tekstur pekat, serta garis yang memberikan rasa kecemasan. Pengalaman melihat karya tidak hanya berlangsung melalui cerita atau simbol, tetapi juga melalui material cat itu sendiri.
Karakter tersebut turut menjelaskan mengapa Nasirun sulit ditempatkan sebagai pelukis “tradisional” meskipun bahan visualnya banyak berasal dari tradisi. Ia justru menghancurkan batas di antara bahasa visual lama dan baru.
Rekam kariernya juga menunjukkan perjalanan jauh dari konteks lokal. IVAA mencatat pameran tunggalnya mulai dari Ngono Yo Ngono, Mung Ojo Ngono di Galeri Nasional Indonesia, Salam Bekti, Uwuh Seni, hingga pameran di Mizuma Art Gallery di Jepang.
Spiritualitas sebagai Cara Melihat, Bukan Label
Di titik ini penting untuk tidak melakukan hal yang justru dihindari Nasirun sepanjang hidupnya: menempelkan identitas tarekat secara berlebihan kepadanya.
Sumber utama mengenai kehidupan spiritual keluarganya dengan jelas menyebut Nasirun kerap menegaskan bahwa ia bukan pengamal tarekat. Yang dapat dibaca adalah pengaruh lingkungan keluarga, nilai kerja, sikap terhadap popularitas, pengalaman masa kecil, dan cara tertentu dalam menerima sesuatu yang berada di luar nalar.
Hasan sendiri menempatkan hubungan antara tarekat dan seni bukan sebagai rumus sebab-akibat, melainkan sebagai cara memahami keterbatasan manusia. Bagi para pengamalnya, realitas tidak dianggap selesai hanya karena dapat diterangkan melalui teks dan simbol.
Hal serupa terasa ketika melihat lukisan Nasirun. Wayang di dalam kanvasnya bukan sekadar wayang. Kaligrafi tidak selalu berfungsi sebagai tulisan yang harus dibaca. Figur mistis tidak harus diterjemahkan menjadi pesan tunggal. Semuanya bercampur menjadi pengalaman visual yang meminta penonton melihat sebelum buru-buru menjelaskan.
Warisan yang Tidak Selalu Terlihat
Nasirun meninggalkan jejak penting dalam seni rupa Indonesia. Pemerintah DIY mengenangnya sebagai seniman yang perjalanan kreatifnya dibangun melalui keberanian menghadapi kesulitan dan konsistensi mengolah tradisi menjadi bahasa personal. Ia tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi kolektor yang menyimpan karya penting seniman Indonesia lainnya.
Namun, kisah keluarga menunjukkan bahwa sebagian fondasi kehidupannya berada jauh sebelum galeri, lelang, kolektor, dan pameran internasional muncul.
Ada Mbah Bustam yang berzikir semalaman. Ada seorang ayah dari tradisi santri. Ada ibu Sunda Wiwitan yang tidak diminta meninggalkan keyakinannya ketika menikah. Ada saudara yang tidak silau pada keberhasilan ekonominya. Dan ada Nasirun, yang kemudian membawa dunia-dunia tersebut tanpa harus menjelaskannya satu per satu ke dalam kanvas.
Barangkali itulah mengapa spiritualitas dalam karya Nasirun lebih tepat dibaca sebagai warisan cara melihat, bukan sekadar kumpulan simbol agama.
Ia tumbuh dari keluarga yang mengajarkan bahwa hidup tidak seluruhnya harus terlihat, dijelaskan, atau dipamerkan. Ironisnya, justru dari wilayah yang tak terlihat itulah salah satu bahasa visual paling ramai dalam seni rupa Indonesia mendapatkan sebagian tenaganya.
Sumber Referensi:
- NU Online (2026). Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat.
- Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Profil Nasirun, penerima Anugerah Kebudayaan DIY kategori Pelaku Seni.
- Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Arsip perjalanan pameran dan karya Nasirun.
- Mizuma Art Gallery. Rekam pameran dan karya Nasirun.





