Culture Environment

Penjing, Seni Membawa Gunung dan Hutan Tiongkok ke Dalam Sebuah Nampan

Sekilas penjing terlihat seperti bonsai: pohon kecil tumbuh dalam wadah dan dibentuk selama bertahun-tahun. Namun, tradisi Tiongkok ini memiliki cakupan yang lebih luas. Pohon dapat dipadukan dengan batu, air, tanah, dan figur manusia untuk menciptakan lanskap lengkap, seakan sepotong gunung, hutan, atau tepian sungai dipindahkan ke atas sebuah nampan.

Sebuah pohon tua berdiri di tepi tebing. Di bawahnya terbentang sungai kecil dengan seorang manusia yang sedang memancing, sementara gugusan batu menjulang seperti pegunungan yang hilang dalam kabut. Pemandangan itu terdengar seperti lukisan lanskap Tiongkok berukuran besar, sampai diketahui seluruh dunianya hanya menempati sebuah nampan.

Inilah penjing, tradisi seni Tiongkok yang menggunakan tanaman hidup, batu, air, tanah, serta elemen miniatur untuk menghadirkan kembali suasana alam dalam skala kecil. National Bonsai Foundation menerjemahkan istilah penjing sebagai “landscape in a tray”, atau lanskap di dalam nampan. Pada sejumlah karya, pohon menjadi pusat perhatian. Pada karya lain, batu dan ruang kosong justru dapat memainkan peran utama.

Karena sama-sama menggunakan pohon mini dalam wadah, penjing sering dianggap hanya sebagai nama Tiongkok untuk bonsai. Hubungan keduanya memang sangat dekat, tetapi menyamakannya begitu saja membuat sebagian besar dunia penjing menghilang dari pembicaraan.

Penjing Bukan Sekadar Bonsai Versi Tiongkok

Perbedaan paling mudah terlihat dari apa yang ingin ditampilkan. Bonsai dalam tradisi Jepang modern umumnya memusatkan perhatian pada pohon sebagai objek utama. Penjing dapat melakukan hal yang sama, tetapi juga dapat membangun seluruh lanskap dengan batu, air, kelompok pohon, tumbuhan kecil, dan figur manusia.

Kurator National Bonsai & Penjing Museum Michael James merangkumnya dengan cukup jelas: “Penjing … is more of a theme or a landscape in a shallow container.” Menurutnya, bonsai lebih dekat pada penyajian pohon ikonik yang minimalis, sedangkan penjing dapat bekerja sebagai suatu dunia atau tema di dalam wadah.

Namun, batasnya tidak sepenuhnya hitam-putih. Master penjing Qingquan Zhao menjelaskan bahwa dalam tradisi Tiongkok terdapat tiga kelompok utama: shumu penjing, shanshui penjing, dan shuihan penjing. Shumu penjing berpusat pada pohon dan dalam banyak hal sangat dekat dengan apa yang dikenal sebagai bonsai. Shanshui penjing menggunakan batu untuk membangun gunung atau kepulauan, sedangkan shuihan penjing menggabungkan daratan, air, pohon, batu, dan terkadang figur miniatur menjadi lanskap yang lebih lengkap.

Dengan kata lain, bonsai bukan lawan dari penjing. Ia lebih dekat dengan salah satu cabang dari tradisi yang sama-sama memiliki akar sejarah di Tiongkok.

Penzai dan Penjing Ternyata Bukan Istilah yang Persis Sama

Sumber populer juga sering menggunakan istilah penzai dan penjing secara bergantian. Keduanya memang berhubungan, tetapi memiliki penekanan berbeda.

National Bonsai Foundation menjelaskan bahwa wadah dengan satu pohon dapat disebut tree penjing, tetapi secara lebih khusus sering disebut penzai. Istilah tersebut memakai karakter yang kemudian dibaca dalam bahasa Jepang sebagai bonsai.

The Metropolitan Museum of Art memiliki bukti visual menarik dari Dinasti Ming. Album karya pelukis Chen Hongshou yang salah satu lembarnya bertarikh 1619 menggambarkan sebuah taman mini dalam pot yang oleh museum disebut sebagai penzai, dengan padanan Jepang bonsai. Museum menafsirkannya sebagai gambaran bagaimana manusia membentuk alam, sementara alam pada saat yang sama terus mengubah dirinya sendiri.

Penjing dengan demikian merupakan istilah yang lebih luas. Sebuah pohon dapat menjadi karya penjing, tetapi penjing tidak harus berhenti pada sebuah pohon.

Akar Tradisinya Berusia Lebih dari Seribu Tahun

Menentukan kapan tepatnya penjing “lahir” tidak sederhana karena seni tersebut berkembang secara bertahap dari praktik memelihara tanaman, batu, dan lanskap mini di Tiongkok.

National Bonsai Foundation menyebut tradisi ini dapat ditelusuri setidaknya hingga Dinasti Tang, 618–907 Masehi. Koleksi museum tersebut juga menyebut bentuk pendahulu penjing telah dikenal sejak Dinasti Jin atau Tsin, sekitar 265–420 Masehi.

Smithsonian National Museum of Asian Art mencatat praktik membudidayakan pohon kerdil di Tiongkok setidaknya sudah berlangsung sejak abad ke-8. Pada masa Dinasti Ming, tradisi tanaman mini semakin populer seiring urbanisasi membuat ruang kota menyempit. Bagi kalangan terpelajar, taman dan pohon mini menjadi cara membawa kembali alam ke halaman yang terbatas.

Bukan hanya dekorasi. Smithsonian menjelaskan bahwa kaum terpelajar Tiongkok juga melihat tantangan filosofis di dalamnya: bagaimana dunia yang begitu luas dapat direpresentasikan melalui bentuk yang sangat kecil dan tetap menangkap energi alam untuk direnungkan sehari-hari.

Membuat Alam Kecil, Bukan Membuat Pohon Kecil

Inilah titik yang membuat penjing menarik. Tujuannya bukan sekadar mengecilkan pohon.

Seorang seniman dapat mengambil batu bergerigi dan membacanya sebagai gunung. Permukaan nampan dapat menjadi hamparan air. Sekumpulan pohon kecil berubah menjadi hutan. Sebuah figur manusia yang ukurannya hanya beberapa sentimeter dapat membuat keseluruhan komposisi tiba-tiba terasa seperti lembah raksasa.

Koleksi Tiongkok National Bonsai & Penjing Museum memperlihatkan penggunaan figur kecil sebagai alat pembentuk skala. Ketika manusia mini ditempatkan di bawah pohon, penonton lebih mudah membayangkan pohon tersebut sebagai sesuatu yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya. Batu dengan pohon juga dapat membangkitkan kesan alam liar dan pegunungan terpencil.

Qingquan Zhao menyebut prinsip itu sebagai “seeing the big from the tiny”, melihat sesuatu yang besar melalui yang sangat kecil. Penjing kemudian menjadi bukan hanya reproduksi alam, tetapi sarana ekspresi pribadi pembuatnya.

Satu nampan mungkin menggambarkan ketenangan. Yang lain dapat terasa liar, sepi, tua, bahkan sedikit surealis. Senimannya tidak wajib menyalin satu lokasi nyata. Michael James menjelaskan banyak karya penjing justru merupakan interpretasi puitis atas dunia imajiner.

Dekat dengan Lukisan Lanskap Tiongkok

Tidak sulit melihat hubungan penjing dengan lukisan tradisional Tiongkok. Pohon dengan cabang berliku, pegunungan menjulang, ruang kosong yang mewakili air atau kabut, dan figur manusia yang terlihat sangat kecil merupakan bahasa visual yang juga muncul dalam lukisan lanskap klasik.

National Bonsai Foundation mencatat gerak cabang pada beberapa penjing, terutama gaya Lingnan, mengingatkan pada pohon-pohon dalam lukisan dan gambar kalangan literati Tiongkok. Praktisi dapat menggunakan metode clip and grow, yakni membiarkan cabang tumbuh lalu memangkasnya berulang kali untuk menghasilkan arah yang lebih alami dan ekspresif.

Di Hangzhou Botanical Garden, hubungan tersebut bahkan digambarkan secara langsung. Pakar taman Hu Zhong menyebut setiap karya sebagai “a silent poem”, sebuah puisi yang tidak bersuara. Koleksi penjing di sana dipahami berhubungan dengan kaligrafi, sastra, serta seni lukis Tiongkok.

Itulah mengapa komposisi penjing kadang terlihat kurang “sempurna” jika dinilai semata-mata dari simetri. Cabang dapat bengkok secara ekstrem, batu dapat menjulang timpang, dan ruang kosong bisa mengambil sebagian besar bidang. Ketidakteraturan itu justru dapat digunakan untuk menciptakan ilusi usia, cuaca, jarak, atau kekuatan alam.

Lalu Bagaimana Penjing Menjadi Bonsai?

Praktik tanaman dan pohon mini dari Tiongkok kemudian menyebar ke Jepang. Qingquan Zhao memperkirakan bentuk tree penjing dibawa ke Jepang pada masa Dinasti Song Selatan di Tiongkok, yang bertepatan dengan akhir periode Heian di Jepang. Di sana, tradisi tersebut berkembang melalui sejarah dan estetika lokal hingga menjadi seni bonsai seperti yang dikenal saat ini.

Karena perkembangan panjang tersebut, bonsai Jepang kemudian membangun aturan estetika, teknik, dan tradisinya sendiri. Jadi, mengatakan bonsai hanyalah “penjing Jepang” juga terlalu sederhana. Hubungan keduanya lebih mirip satu tradisi yang berpindah budaya lalu berkembang menjadi cabang seni dengan identitas masing-masing.

National Bonsai & Penjing Museum di Washington bahkan menyimpan keduanya dalam koleksi terpisah berdasarkan tradisi budaya. Museum itu memiliki koleksi penjing Tiongkok yang sebagian besar berkembang setelah sumbangan kolektor Hong Kong Yee-sun Wu pada 1986.

Penjing Menawarkan Sebuah Cara Melihat Alam

Di balik teknik memangkas cabang atau menata batu, penjing membawa gagasan yang lebih besar: manusia dapat membangun hubungan dengan alam bahkan melalui ruang yang sangat terbatas.

Zhao menggambarkan penjing sebagai cara menggunakan bahan-bahan alami untuk mengekspresikan lanskap. Menurutnya, orang modern semakin jauh dari alam karena pekerjaan dan kehidupan perkotaan, sementara praktik penjing menawarkan ruang untuk mencari ketenangan dan keterhubungan kembali dengan dunia alami.

Itulah sebabnya sebuah karya dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Pohonnya tetap hidup, tumbuh, kehilangan daun, membentuk cabang baru, dan harus terus dirawat. Komposisinya tidak pernah benar-benar menjadi benda mati yang selesai sekali lalu ditaruh di rak. Koleksi National Bonsai & Penjing Museum sendiri memiliki karya yang telah dilatih selama puluhan tahun.

Penjing akhirnya berada di wilayah aneh antara taman, patung, lukisan, dan organisme hidup. Senimannya dapat mengatur batu dan memangkas pohon, tetapi tidak pernah memiliki kendali penuh karena tanaman terus melakukan kegiatan favorit alam: tumbuh ke arah yang kadang tidak diminta manusia.

Barangkali justru di situ daya tariknya.

Di atas sebuah nampan yang panjangnya mungkin hanya beberapa puluh sentimeter, penjing berusaha menciptakan sesuatu yang terasa jauh lebih luas: gunung yang seolah berumur ribuan tahun, hutan yang terasa dapat dimasuki, sungai yang tidak benar-benar mengalir, dan manusia kecil yang mengingatkan bahwa dalam lanskap sesungguhnya, kitalah yang sebenarnya berukuran kecil.

Sumber Referensi:

  • Indozone (2026). Apa Itu Penjing? Seni Miniatur Tiongkok yang Kerap Disamakan dengan Bonsai.
  • National Bonsai Foundation / National Bonsai & Penjing Museum. Penjing Defined by Master Zhao Qingquan.
  • National Bonsai Foundation. Historical Tree Spotlight: “Spring Rain” Stone Penjing.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Creative Culture

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini
Creative Culture

Kopi Aceh Mendunia: Dari Lereng Berkabut ke Meja Kafe Internasional

Di balik aroma secangkir kopi Aceh yang tersaji di kafe-kafe premium Dubai atau Singapura, terdapat jejak panjang dedikasi petani di