Creative Social

Makan Malam Rp500 Ribu di Bus TransJakarta, Apa yang Ditawarkan Open Dining of Jakarta?

Makan malam di dalam bus TransJakarta kini bukan lagi soal membuka bekal di perjalanan. Lewat Open Dining of Jakarta, sebuah bus tingkat diubah menjadi restoran berjalan yang membawa tamu menyusuri pusat Jakarta sambil menikmati set menu, alunan biola, cerita sejarah, dan pemandangan kota saat matahari mulai tenggelam. Tarifnya Rp500.000 per orang.

Jakarta punya banyak cara untuk menikmati makan malam, dari restoran di gedung pencakar langit hingga kedai yang bertahan di gang sempit. Namun, mulai Agustus 2026 muncul pilihan yang sedikit lebih ganjil sekaligus menarik: menyantap hidangan bergaya fine dining ketika meja makan ikut bergerak menembus lalu lintas ibu kota.

Layanan bernama Open Dining of Jakarta merupakan kolaborasi TransJakarta dengan House of Tugu di kawasan Kota Tua. Tamu memulai pengalaman dari hotel tersebut sebelum naik ke bus tingkat yang telah dimodifikasi menjadi ruang makan. Perjalanan berlangsung sekitar 85 menit dengan kapasitas maksimal 30 orang dalam setiap keberangkatan. Platform pemesanan Klook menyebut pengalaman ini sebagai fine dining pertama di Jakarta di atas bus tingkat, dengan sajian tiga hidangan sambil melewati sejumlah landmark kota.

Rp500 Ribu Bukan Hanya Membayar Makanan

Tarif Open Dining of Jakarta ditetapkan mulai Rp500.000 per orang. Namun, yang dijual bukan sekadar satu kursi dan sepiring makanan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelaskan paket tersebut mencakup hidangan lengkap mulai dari pembuka, hidangan utama, hingga pencuci mulut, ditambah musik biola secara langsung dan narasi mengenai kawasan yang dilewati.

“Tarifnya Rp500.000 per orang, sudah termasuk paket makan lengkap mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hingga pencuci mulut,” kata Direktur Utama PT TransJakarta Welfizon Yuza.

Pada tahap awal, pengalaman dimulai sebelum bus bergerak. Berdasarkan pengalaman yang dilaporkan Kompas.com, tamu terlebih dahulu mengikuti tur singkat di House of Tugu Jakarta. Mereka diperkenalkan dengan interior, koleksi, dan sejumlah jejak sejarah peranakan yang tersimpan di dalam hotel sebelum menuju kendaraan.

Dengan demikian, tiket setengah juta tersebut lebih tepat dibaca sebagai paket wisata kuliner daripada sekadar biaya makan malam.

Tiga Konsep Menu dengan Cerita yang Berbeda

Makanan menjadi pusat perjalanan, tetapi konsepnya tidak dibuat seperti restoran yang menyediakan puluhan pilihan dalam satu daftar menu. Dalam satu sesi, seluruh penumpang menikmati tema hidangan yang telah ditentukan.

Pada tahap peluncuran, terdapat tiga konsep set menu yakni Nusantara, Japanese, dan Dutch-Indies. Salah satu paket yang diperkenalkan adalah Dutch-Indies Peranakan Set, berisi Bitterballen Rendang Croquette, Gado-gado Deconstructed, Kakap Biefstuk, Klappertaart, serta minuman pembuka berupa es kunyit asam.

Klook juga menjelaskan bahwa konsep kulinernya dirancang berubah secara berkala dengan mengangkat makanan dari berbagai daerah Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, perjalanan yang sama tidak harus selalu memberikan menu identik kepada penumpang pada periode berbeda.

Di meja, pengalaman dibuat menyerupai restoran formal. Tamu mendapatkan peralatan makan lengkap, serbet, serta lembar informasi mengenai menu. Detail kecil semacam itu dibutuhkan karena tantangan Open Dining cukup absurd jika dipikirkan: mempertahankan suasana makan yang rapi di sebuah kendaraan yang tetap harus berakselerasi, mengerem, dan bertemu kondisi jalan Jakarta.

Makan Sambil Menyaksikan Jakarta Berubah dari Sore ke Malam

Rute awal membawa tamu dari kawasan Kota Tua menuju pusat Jakarta. Dalam perjalanan, jendela lebar bus memberikan pandangan ke sejumlah titik kota, mulai dari kawasan bersejarah di Jakarta Barat hingga Monas dan Sarinah.

Waktu keberangkatan sengaja ditempatkan pada sore hingga malam hari. Berdasarkan jadwal awal yang dilaporkan Kompas.com, tersedia sesi sekitar pukul 16.00 dan 18.15 WIB. Sesi sore memungkinkan tamu melihat perubahan Jakarta ketika cahaya matahari perlahan hilang dan lampu gedung mulai mengambil alih pemandangan.

Kombinasi waktu dan posisi duduk di lantai atas bus menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman tersebut. Klook menyebut perjalanan dirancang agar tamu dapat menikmati landmark Jakarta ketika golden hour maupun setelah gelap.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang sempat mengikuti uji coba bahkan menemukan satu persoalan praktis yang sulit muncul di restoran biasa: kondisi jalan ikut menentukan makanan seperti apa yang aman disantap.

“Makannya enggak bisa soto betawi, bisa berantakan,” ujar Rano ketika menceritakan pengalamannya melewati kawasan Kota Tua.

Komentar tersebut terdengar sederhana, tetapi menjelaskan mengapa menu restoran berjalan membutuhkan pertimbangan berbeda. Kuah yang banyak, peralatan yang mudah bergeser, dan makanan yang sulit disantap ketika kendaraan bergerak jelas bukan kombinasi yang ingin diuji terlalu jauh di jalan raya.

Ada Pemandu dan Biola di Tengah Perjalanan

Open Dining tidak membiarkan tamu hanya makan sambil menatap gedung dari balik kaca. Selama perjalanan terdapat pemandu yang menceritakan sejarah kawasan dan bangunan yang dilewati, sekaligus memberikan konteks mengenai hidangan yang disajikan.

Dalam pengalaman awal, cerita perjalanan mencakup kawasan Kota Tua, kanal peninggalan Batavia, Jalan Pintu Besar, Monas, hingga Sarinah. Dengan demikian, perjalanan mencoba menghubungkan makanan dengan sejarah kota, bukan menjadikan Jakarta sekadar latar belakang bergerak di luar jendela.

Suasana juga dilengkapi pertunjukan biola langsung. Musisi ditempatkan di area depan sehingga musik dapat terdengar sepanjang perjalanan tanpa terlalu mengganggu pelayanan makanan. Pemerintah DKI memasukkan pertunjukan musik dan narasi sejarah sebagai bagian resmi dari paket layanan tersebut.

Transportasi Publik yang Berubah Menjadi Produk Wisata

Open Dining of Jakarta lahir bersamaan dengan pengembangan layanan wisata TransJakarta lainnya. Pada Juli 2026, Pemprov DKI juga meluncurkan rute Open Top Tour Jakarta Batavia yang menghubungkan Sarinah dengan Kota Tua. Saat ini layanan bus wisata tersebut mencakup beberapa tema perjalanan seperti Jakarta Skyline, Jakarta Heritage, Jakarta Explorer, dan Jakarta Batavia.

Bagi pemerintah daerah, kendaraan publik mulai diposisikan bukan hanya sebagai alat memindahkan manusia, tetapi juga sebagai medium mengenalkan kota.

“Kami berharap masyarakat dapat menikmati Jakarta dari perspektif yang berbeda, bukan hanya melihat kotanya, tetapi juga mengenal sejarah, budaya, dan identitasnya,” kata Rano.

Pemprov DKI juga melihat pengembangan layanan wisata semacam ini sebagai bagian dari strategi menghidupkan kawasan bersejarah dan membuka peluang bagi industri kuliner serta ekonomi kreatif.

Jadi, Apa yang Didapat dengan Rp500 Ribu?

Jika diringkas, pengunjung tidak hanya membeli makan malam. Paket Open Dining menggabungkan tur singkat di House of Tugu, perjalanan sekitar 85 menit menggunakan bus tingkat, set menu lengkap, pemandu yang membawa cerita sejarah Jakarta, pertunjukan biola langsung, serta pemandangan kota dari sore menuju malam. Kapasitas yang dibatasi sekitar 30 tamu juga sengaja mempertahankan pengalaman agar tidak berubah menjadi kantin berjalan.

Apakah Rp500.000 terasa mahal akan sangat bergantung pada apa yang dicari. Jika hanya dihitung dari jumlah makanan di piring, tentu ada banyak tempat di Jakarta yang menawarkan makan malam dengan biaya jauh lebih rendah. Namun, Open Dining memang tidak dibangun untuk bersaing pada ukuran tersebut.

Produk utamanya adalah pengalaman: duduk di meja makan yang bergerak melewati Kota Tua, menikmati hidangan ketika Jakarta berubah dari terang menjadi malam, mendengar cerita bangunan yang sering dilewati tanpa diperhatikan, lalu melihat kota yang sangat biasa dari sudut yang mendadak sedikit asing.

Untuk sekali perjalanan, setidaknya kemacetan Jakarta akhirnya punya fungsi tambahan sebagai bagian dari durasi makan malam.

Sumber Referensi:

  • Kompas.com (2026). Harga Open Dining TransJakarta Rp500.000, Dapat Apa Saja?
  • Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (2026). Wagub Rano Luncurkan Open Top Tour Jakarta Batavia, Perkuat Daya Tarik Wisata Kota Tua.
  • ANTARA News (2026). Rano Karno Bagikan Pengalaman Jajal Wisata Open Dining of Jakarta.
  • Klook (2026). Open Dining of Jakarta x Tugu Group.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Creative Culture

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini
Social

Rabu Pagi di SDN Gajahmungkur 03: Saat Seluruh Sekolah Berhenti untuk Menulis

Setiap Rabu pagi, suasana di SDN Gajahmungkur 03, Semarang, berubah drastis menjadi sunyi. Seluruh warga sekolah—dari siswa kelas satu hingga