Situs Bongal Buka Jejak Islam Abad ke-7 di Sumatra, Sejarah Nusantara Bisa Dibaca Ulang
Koin Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, artefak berinskripsi Arab, kaca dari Asia Barat, hingga sisa perahu kuno ditemukan di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Rangkaian temuan tersebut menunjukkan pesisir barat Sumatra telah terhubung dengan jaringan perdagangan dunia Islam sejak sekitar abad ke-7 hingga ke-10 Masehi, jauh sebelum kerajaan Islam berkembang sebagai kekuatan politik di Nusantara.
Di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah, sebuah kawasan yang dahulu nyaris tidak dikenal dalam peta besar sejarah Nusantara perlahan membuka cerita dari lebih dari seribu tahun lalu. Situs Bongal menghasilkan beragam artefak yang menunjukkan kawasan pesisir barat Sumatra pernah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Samudra Hindia.
Temuan yang paling menarik datang dari benda-benda yang berkaitan dengan dunia Islam awal. Penelitian mencatat keberadaan koin perak Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, artefak beraksara Arab, kaca dan keramik dari Asia Barat, hingga berbagai benda yang diperkirakan berhubungan dengan aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat pelabuhan. Studi dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha menyebut bukti arkeologis dari Bongal menunjukkan interaksi Nusantara dengan dunia Islam berlangsung pada rentang abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.
Koin Berusia Lebih dari 1.300 Tahun Jadi Petunjuk Penting
Salah satu benda paling mencolok dari Bongal adalah dirham perak Dinasti Umayyah. Penelitian numismatik terhadap koleksi yang berasal dari situs tersebut mencatat salah satu koin bertarikh 79 Hijriah atau sekitar 701 Masehi. Koin itu menggunakan aksara Arab bergaya Kufi dan berasal dari periode awal kekuasaan Dinasti Umayyah.
Selain koin Umayyah, ditemukan pula dirham dari masa Dinasti Abbasiyah yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Penelitian BRIN yang diterbitkan dalam jurnal AMERTA menyebut penanggalan koin tersebut sejalan dengan analisis karbon terhadap material organik dari Situs Bongal, yang menunjukkan kawasan itu telah dihuni atau digunakan dalam rentang sekitar abad ke-6 hingga ke-10 Masehi.
Bagi Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud, temuan tersebut membuka kemungkinan untuk meninjau kembali periode paling awal hubungan Islam dengan Nusantara. “Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8,” ujarnya dalam Forum Kebhinekaan Seri ke-38 sebagaimana dikutip Inilah.com.
Namun, koin dari dunia Islam tidak otomatis membuktikan bahwa masyarakat lokal pada abad ke-7 sudah seluruhnya memeluk Islam. Artefak dapat berpindah bersama perdagangan, pelayaran, hadiah, maupun aktivitas ekonomi. Yang dapat dikatakan dengan lebih kuat adalah bahwa unsur material peradaban Islam dan hubungan dengan dunia Islam telah mencapai pesisir Sumatra pada masa yang sangat awal. Penafsiran tentang komunitas Muslim dan proses Islamisasinya masih memerlukan bukti tambahan.
Bongal Ternyata Terhubung dengan Dunia yang Sangat Jauh
Koin bukan satu-satunya benda asing yang muncul dari tanah Bongal. Penelitian mencatat berbagai temuan seperti manik-manik yang memiliki hubungan dengan pusat produksi di Fustat dan Nishapur, cincin dengan inskripsi Arab, wadah parfum perunggu, keramik berglasir, kaca dari Asia Barat, serta benda yang dikaitkan dengan aktivitas medis dan kimia.
Kumpulan artefak tersebut memperlihatkan Bongal kemungkinan tidak berdiri sebagai permukiman terisolasi. Kawasan ini berada dalam jaringan pergerakan barang dan manusia yang melintasi Samudra Hindia. Penelitian tahun 2026 mengenai jaringan maritim Bongal juga menemukan artefak dari berbagai dunia budaya, termasuk koin Abbasiyah, koin Dinasti Tang, kaca Persia, dan benda berhubungan dengan tradisi Kristen Nestorian.
Jejak yang bercampur itu justru membuat Bongal semakin menarik. Situs tersebut tidak hanya bercerita tentang Islam, tetapi menggambarkan sebuah kawasan perdagangan kosmopolitan tempat berbagai pengaruh budaya, agama, teknologi, dan komoditas bertemu.
Posisinya di pantai barat Sumatra juga strategis. Kawasan tersebut berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan berada tidak terlalu jauh dari Barus, wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan kapur barus dan komoditas aromatik bernilai tinggi.
Perahu Kuno Membuktikan Aktivitas Maritim Sudah Hidup
Bukti penting lainnya datang bukan dari Timur Tengah, tetapi justru dari teknologi lokal Nusantara. Peneliti menemukan fragmen perahu kuno di Bongal yang menggunakan teknik tambuku-terikat, tradisi pembuatan kapal khas Asia Tenggara.
Analisis radiokarbon terhadap kayu dan ijuk dari sisa perahu menghasilkan rentang sekitar 663 hingga 779 Masehi. Penelitian BRIN menyimpulkan teknologi perahu tersebut telah digunakan di pesisir barat Sumatra setidaknya sejak abad ke-7.
Temuan ini memberi potongan cerita yang lebih lengkap. Barang dari dunia Islam memang mencapai Bongal, tetapi penduduk Nusantara pada waktu yang sama juga memiliki teknologi pelayaran sendiri. Artinya, hubungan perdagangan tidak harus dibayangkan sebagai pedagang asing datang ke masyarakat lokal yang pasif. Kapal dan pelaut Nusantara kemungkinan ikut bergerak dalam jaringan perdagangan yang jauh lebih luas.
Sisa perahu, keramik, logam, kaca, dan komoditas perdagangan bersama-sama menunjukkan adanya aktivitas maritim yang kompleks. Bongal tampaknya pernah menjadi bagian dari jalur yang menghubungkan masyarakat lokal Sumatra dengan India, Asia Barat, Cina, dan kawasan lain di sekitar Samudra Hindia.
Mengisi Tujuh Abad yang Selama Ini Samar
Pembahasan sejarah Islam Indonesia selama ini sering lebih mudah dimulai dari bukti yang jelas secara politik, seperti berdirinya kerajaan Islam, makam penguasa, prasasti, atau catatan mengenai kesultanan. Kerajaan Samudra Pasai pada sekitar abad ke-13, misalnya, menyediakan bukti yang jauh lebih mudah dibaca mengenai keberadaan kekuasaan Islam.
Masalahnya, jika hubungan dengan dunia Islam telah terjadi sejak abad ke-7 atau ke-8, terdapat jarak sekitar lima hingga tujuh abad sebelum munculnya kekuasaan Islam yang terdokumentasi dengan lebih jelas. Periode panjang itulah yang kini menjadi salah satu pertanyaan besar.
“Nah, ini tujuh abad bukan rentang yang pendek,” kata Irfan. Menurutnya, berbagai penemuan baru dapat membuka kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya berlangsung selama periode tersebut.
Ada kemungkinan hubungan dagang telah berlangsung jauh sebelum Islam berkembang menjadi identitas politik. Pedagang Muslim dapat datang dan pergi. Sebagian mungkin menetap. Perkawinan, pertukaran budaya, jaringan ekonomi, serta pembentukan komunitas dapat berlangsung secara perlahan selama beberapa generasi. Masalahnya, kehidupan masyarakat biasa jarang meninggalkan catatan tertulis semewah kerajaan. Arkeologi akhirnya harus bekerja dengan koin, pecahan kaca, kapal rusak, kuburan, dan benda sehari-hari. Sejarah, seperti biasa, menyisakan pekerjaan rumahnya dalam bentuk serpihan.
Islamisasi Tidak Hanya Cerita tentang Raja dan Kerajaan
Situs Bongal juga mendorong cara berbeda dalam membaca penyebaran Islam. Alih-alih hanya mencari kapan seorang raja masuk Islam atau kapan sebuah kesultanan didirikan, penelitian dapat melihat proses yang berlangsung di tingkat masyarakat pesisir.
Studi akademik terbaru mengenai Bongal menempatkan situs tersebut sebagai salah satu pintu awal interaksi antara kepulauan Indonesia dan peradaban Islam melalui perdagangan. Kehadiran barang dari Asia Barat bersama teknologi serta artefak lokal menunjukkan pertukaran tidak berlangsung dalam satu arah.
Pendekatan ini membuat pertanyaan sejarah berubah. Bukan hanya “kapan Islam masuk Indonesia?”, tetapi siapa yang datang, siapa yang mereka temui, barang apa yang diperdagangkan, bahasa apa yang digunakan, apakah ada masyarakat Muslim yang menetap, dan bagaimana gagasan keagamaan bergerak bersama jaringan ekonomi.
Pertanyaan tersebut jauh lebih sulit dijawab daripada menentukan satu tahun kedatangan. Tetapi justru di situlah nilai Bongal. Situs ini memberi kesempatan melihat Islamisasi sebagai proses sosial panjang, bukan sebuah peristiwa tunggal yang terjadi pada satu tanggal lalu selesai.
BRIN Siapkan Penelitian Jangka Panjang di Bongal
Besarnya potensi Bongal membuat penelitian tidak direncanakan berhenti pada ekskavasi sesaat. BRIN dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah membahas pengembangan kawasan stasiun lapangan yang dapat mendukung penelitian dan pelestarian situs dalam jangka panjang.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Yogaswara mengatakan perbedaan tafsir terhadap temuan Bongal merupakan sesuatu yang wajar selama perdebatan didasarkan pada bukti. “Di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evidence,” ujarnya.
BRIN juga melihat kebutuhan penelitian yang lebih luas di sepanjang pantai barat Sumatra. Herry menyebut gagasan membangun stasiun lapangan sebagai bagian dari penelitian jangka panjang untuk memperkuat kajian arkeologi dan peradaban Islam. Rencana tersebut sejalan dengan pembicaraan BRIN dan pemerintah daerah mengenai perlindungan Situs Bongal sebagai kawasan riset dan edukasi.
Belum Mengganti Sejarah, tetapi Membuka Bab yang Lebih Tua
Temuan Bongal memang menggoda untuk segera menghasilkan kesimpulan besar bahwa Islam telah “masuk Indonesia” pada abad ke-7. Namun, penelitian arkeologi membutuhkan bahasa yang lebih hati-hati. Koin Islam membuktikan hubungan dengan dunia Islam, tetapi belum sendirian membuktikan jumlah komunitas Muslim atau luasnya proses konversi masyarakat lokal.
Justru kekuatan Bongal terletak pada banyaknya bukti yang mulai saling melengkapi: koin dari dunia Islam, benda impor Asia Barat, aktivitas perdagangan internasional, perahu lokal abad ke-7, serta jejak permukiman yang berlangsung selama beberapa abad. Studi BRIN menyebut koin Abbasiyah dari Bongal sebagai bukti artefaktual penting bahwa unsur peradaban Islam hadir di Nusantara jauh sebelum abad ke-12.
Jika penelitian lanjutan menemukan permukiman, pemakaman, inskripsi, atau bukti lain yang dapat memperjelas keberadaan komunitas Muslim awal, peta sejarah Islam Nusantara akan menjadi jauh lebih detail.
Untuk sementara, Situs Bongal belum menutup perdebatan tentang kapan Islam pertama kali hadir di Indonesia. Ia melakukan sesuatu yang lebih berguna bagi ilmu pengetahuan: memberikan bukti baru yang membuat pertanyaan lama harus diajukan kembali.
Sumber Referensi:
- Inilah.com (2026). Ada Jejak Islam Tertua di Sumut, Sejarah Masuknya Islam di Nusantara Abad ke-7.
- AMERTA, BRIN (2022). Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions with Islamic Civilization in the 8th–9th Century A.D.
- Jurnal Sejarah Citra Lekha, Universitas Diponegoro (2025). Awal Kehadiran Peradaban Islam di Indonesia: Eksplorasi Arkeologis Situs Bongal di Tapanuli Tengah.
- Yupa: Historical Studies Journal (2022). Kontribusi Koin Umayyah Temuan Situs Bongal terhadap Historiografi Islam di Sumatera Utara.
- KALPATARU, BRIN (2023). Analisis Teknologi Pembuatan Perahu pada Temuan Sisa Perahu Kuno dari Abad VII M di Situs Bongal.





