Boleh Gondrong, Dilarang Menyontek: Cara De Britto Mengajarkan Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, rambut gondrong, pakaian bebas, dan sepatu sandal bukan pemandangan yang dianggap melanggar disiplin. Namun, kebebasan tersebut berhenti ketika menyentuh kejujuran dan tanggung jawab. Sekolah Yesuit yang berdiri sejak 1948 itu memilih mengajarkan siswa untuk memikirkan konsekuensi tindakannya, bukan sekadar patuh karena takut aturan.
Jika kebanyakan sekolah mudah mengenali pelanggaran dari panjang rambut atau warna sepatu, SMA Kolese De Britto di Yogyakarta mengambil pendekatan berbeda. Siswa laki-laki di sekolah tersebut dapat memelihara rambut panjang, tidak diwajibkan mengenakan seragam setiap hari, bahkan diperbolehkan memakai jenis sepatu sandal tertentu. Situs resmi De Britto sendiri menyebut penampilan tanpa seragam dan rambut panjang sebagai salah satu ciri yang telah lama melekat pada siswanya.
Kebijakan itu kembali ramai diperbincangkan pada 2026 setelah sejumlah potret dan cerita mengenai kehidupan siswa De Britto beredar luas. Dari luar, sekolah tersebut mudah memperoleh label sebagai sekolah yang “bebas”. Namun, kebebasan di De Britto sebenarnya dibangun dengan syarat yang lebih berat daripada sekadar menaati aturan penampilan: siswa harus mampu mempertanggungjawabkan pilihannya.
Rambut Gondrong Bukan Ukuran Disiplin
Siswa De Britto diperbolehkan memelihara rambut panjang selama mempertahankan warna alaminya. Mereka juga dapat memakai pakaian bebas pada sebagian besar hari sekolah dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kebijakan tersebut membuat penampilan siswa jauh berbeda dibandingkan gambaran umum pelajar SMA dengan seragam putih abu-abu dan rambut pendek.
Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa pendekatan itu tidak berarti sekolah menghapus aturan. Menurutnya, kebebasan justru digunakan agar siswa belajar membuat keputusan sendiri.
“Bebas bertanggung jawab ini bukan bebas semau gue,” kata Danang ketika menjelaskan filosofi sekolah kepada detikJogja.
Konsekuensi tetap berlaku. Rambut boleh panjang tetapi tidak boleh diwarnai. Pilihan pakaian juga tidak berarti siswa dapat mengenakan apa saja tanpa mempertimbangkan lingkungan sekolah. Intinya bukan menghilangkan batas, melainkan mengurangi aturan yang hanya mengendalikan penampilan dan mengalihkan perhatian pada keputusan serta perilaku siswa.
Kebebasan Dipakai untuk Melatih Cara Berpikir
Filosofi “bebas yang bertanggung jawab” berkembang sebagai bagian dari identitas pendidikan De Britto. Danang menjelaskan pendekatan tersebut berkaitan dengan keinginan sekolah untuk tidak membentuk siswa yang hanya mengikuti instruksi secara mekanis. Terlalu banyak pembatasan dianggap dapat mengurangi ruang bagi keberanian, kreativitas, dan kemampuan menyampaikan gagasan.
Karena itu, siswa didorong untuk berpikir sebelum mengambil pilihan. Kebebasan menjadi semacam latihan pengambilan keputusan: seseorang boleh memilih, tetapi ia juga harus siap menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.
Prinsip yang sama terlihat dalam pendidikan Yesuit yang diterapkan De Britto. Sekolah menggunakan kerangka 1L+5C, yakni Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Consistency. Situs resmi sekolah menjelaskan pendidikan diarahkan untuk membentuk pemimpin yang cakap, memiliki hati nurani, berbela rasa, berkomitmen, serta konsisten antara pikiran, perkataan, dan tindakan.
Dengan kerangka itu, rambut gondrong sebenarnya hanya bagian permukaan dari sistem yang lebih luas. Sasaran akhirnya bukan membuat siswa terlihat berbeda, tetapi membuat mereka mampu menentukan sikap tanpa harus selalu menunggu seseorang memberi perintah.
Boleh Gondrong, tetapi Menyontek Bisa Kena SP 2
Kontras paling jelas terlihat pada cara sekolah memperlakukan ketidakjujuran. Ketika persoalan penampilan diberikan ruang cukup luas, tindakan menyontek justru mendapat sanksi berat.
Menurut Danang, siswa yang terbukti menyontek dapat langsung memperoleh Surat Peringatan 2 atau SP 2. Apabila perilaku tidak berubah, konsekuensinya dapat berkembang hingga siswa harus meninggalkan sekolah.
Logikanya cukup konsisten dengan filosofi sekolah. Rambut panjang tidak secara langsung menentukan integritas seseorang, sementara menyontek berkaitan dengan kejujuran dan tanggung jawab pribadi. Karena itu, De Britto memilih keras pada aspek yang dianggap menyentuh pembentukan karakter dibandingkan sekadar keseragaman penampilan.
“Jadi aturan itu dibuat bukan untuk membatasi, tapi untuk mengajak anak-anak itu berpikir,” ujar Danang.
Model ini membalik gambaran disiplin yang lazim. Kerapian fisik tidak otomatis dianggap bukti karakter baik, sedangkan kebebasan penampilan tidak otomatis diterjemahkan sebagai ketidakdisiplinan.
Kelas Tanpa Pintu yang Dijuluki ‘Kandang Kuda’
Keunikan De Britto tidak berhenti pada rambut dan pakaian. Sebagian ruang kelasnya tidak memiliki pintu dan jendela penuh. Dinding luar hanya dibuat setinggi sekitar 1,5 meter sehingga ruang belajar terasa terbuka. Para siswa mengenalnya dengan julukan “kandang kuda”.
Bangunan tersebut merupakan bagian dari desain lama sekolah yang masih dipertahankan. Menurut Danang, bentuk kelas terbuka memiliki filosofi agar siswa memiliki hubungan lebih dekat dengan lingkungan sekaligus belajar menjaga perilaku ketika aktivitas kelas lain dapat terdengar dengan mudah. Udara dapat bergerak secara alami dan batas antarruang terasa lebih tipis dibandingkan kelas tertutup konvensional.
Konsekuensinya cukup jelas. Ketika satu kelas terlalu gaduh, kelas lain dapat terganggu. Siswa tidak membutuhkan daftar larangan sepanjang novel untuk memahami masalahnya. Ruangan itu sendiri memaksa mereka belajar memperhitungkan keberadaan orang lain.
Arsitektur akhirnya menjadi bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar wadah tempat meja dan proyektor ditaruh.
Sekolah Yesuit yang Berdiri Sejak 1948
Identitas De Britto terbentuk melalui sejarah yang cukup panjang. Sekolah tersebut pertama kali dibuka sebagai SMA Kanisius pada 19 Agustus 1948 dengan 65 siswa laki-laki dan perempuan. Setelah berbagai perubahan pada masa revolusi kemerdekaan, pendidikan siswa putra dan putri kemudian dipisahkan. Bagian putra berkembang menjadi SMA Kolese De Britto di bawah pengelolaan Serikat Yesus, sementara bagian putri berkembang menjadi SMA Stella Duce.
Nama De Britto berasal dari João de Brito, misionaris Yesuit Portugis yang menjalankan karya di India dan meninggal sebagai martir pada 1693. Saat ini sekolah berada di Jalan Laksda Adisucipto 161, kawasan Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta.
Sebagai bagian dari jaringan pendidikan Yesuit, pembentukan manusia seutuhnya menjadi salah satu fondasi pendidikannya. Sekolah menyebut siswa-siswanya berasal dari berbagai daerah, etnis, dan agama, sehingga lingkungan De Britto dipandang sebagai gambaran kecil keberagaman Indonesia.
Bebas Bukan Berarti Tidak Ada Batas
Fenomena siswa gondrong membuat De Britto mudah viral karena penampilannya memang berbeda. Namun, rambut sebenarnya bagian paling sederhana dari filosofi tersebut. Tantangan yang lebih sulit adalah mengajari remaja menggunakan kebebasan tanpa menjadikannya alasan untuk mengabaikan orang lain.
Seseorang dapat memilih menumbuhkan rambut, menentukan pakaian, atau menampilkan identitasnya sendiri. Tetapi ketika pilihannya menyentuh kejujuran, kepentingan orang lain, serta komitmen terhadap komunitas, ia harus siap menghadapi konsekuensi.
Pendekatan De Britto tentu bukan satu-satunya model pendidikan karakter dan tidak harus ditiru mentah-mentah oleh setiap sekolah. Namun, eksperimen pendidikan yang telah dijalankan selama puluhan tahun tersebut menawarkan pertanyaan menarik tentang makna disiplin.
Jika seorang siswa berambut pendek karena takut dihukum, apakah ia sudah belajar disiplin? Atau justru pembentukan karakter dimulai ketika siswa diberi pilihan, lalu belajar bahwa setiap pilihan membawa tanggung jawab?
Di De Britto, jawabannya tampak dari pemandangan yang paling mudah dikenali: siswa boleh datang dengan rambut gondrong, tetapi kejujuran tetap tidak bisa dinegosiasikan.
Sumber Referensi:
- TajukNasional.com (2026). Viral! Sekolah Bebas Izinkan Siswa Gondrong, Ini Profil SMA De Britto Yogyakarta.
- SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Profil, sejarah, dan nilai pendidikan 1L+5C.
- detikJogja (2026). Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda.
- detikJogja (2026). Murid SMA De Britto Bebas Gondrong, Tapi Ketahuan Nyontek Bisa Bablas!





