Local Hero Social

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga Berlayar Menuju Kepulauan Sumenep untuk Misi Kemanusiaan

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) milik Universitas Airlangga kembali mengarungi lautan untuk menjalankan misi kemanusiaan dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat di wilayah kepulauan terpencil Kabupaten Sumenep. Pelayaran ini menjadi wujud nyata komitmen institusi pendidikan tinggi dalam menjembatani kesenjangan akses medis bagi warga di pulau-pulau terluar.

Misi pelayanan kesehatan yang diusung oleh RSKKA menjangkau sejumlah titik sasaran strategis, meliputi kawasan Bluto di daratan Madura, Pulau Raas, Pulau Karamian, hingga Pulau Masalembu. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan memadai, sehingga kehadiran rumah sakit terapung ini sangat dinantikan oleh masyarakat setempat. Pelayanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan umum, tindakan medis spesialis, hingga penanganan gawat darurat guna memastikan warga kepulauan mendapatkan hak kesehatan yang setara.

Fasilitas Medis Unggulan dan Dukungan Tenaga Spesialis

Sebagai rumah sakit terapung yang dirancang secara mandiri, RSKKA dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung medis modern, seperti kamar operasi, fasilitas rontgen, dan laboratorium klinik. Dalam pelayaran program Bhakti Pulau Sehat 2026 kali ini, tim medis diperkuat oleh belasan tenaga kesehatan serta dokter spesialis dari berbagai bidang, mulai dari dokter spesialis anak, kandungan, bedah, hingga penyakit dalam. Kelengkapan fasilitas tersebut memungkinkan tim medis untuk melaksanakan tindakan darurat maupun operasi bedah langsung di atas kapal dengan standar keamanan yang terjaga.

Menurut Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga, Dr. Christrijogo Sumartono, selain layanan pengobatan, timnya berfokus juga mengedepankan edukasi kesehatan, promosi pola hidup sehat, serta skrining penyakit katastropik.

Pemeriksaan awal seperti cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sangat vital bagi masyarakat di area Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Sulitnya akses fasilitas kesehatan kerap menyebabkan penyakit berat baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap lanjut.

Langkah ini turut mendapat sokongan kuat dari berbagai pihak, yang ditandai melalui penyerahan bantuan secara simbolis oleh BPJS Kesehatan, Kedutaan Besar Australia, hingga perusahaan industri HCML kepada manajemen RSKKA.

Setelah acara seremoni selesai, Direktur RSKKA, dr. Agus Harianto, Sp.B., memandu langsung kegiatan peninjauan kapal (ship tour). Peninjauan ini memperlihatkan kesiapan berbagai sarana medis modern—seperti ruang tindakan dan ruang operasi—yang dirancang khusus agar tetap andal di tengah kondisi lautan.

dr. Agus menjelaskan bahwa sebanyak 37 tenaga relawan dikerahkan dalam misi ini, mencakup 7 dokter spesialis (bedah, penyakit dalam, anak, mata, gigi, serta kandungan), 12 dokter umum, hingga tim pendukung seperti apoteker, ahli gizi, dan analis medis.

“Sesuai permintaan masyarakat, kami membawa tim spesialis lengkap. Jika ada kasus yang memerlukan tindakan bedah, kami siap melakukan operasi di atas kapal. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 100 bayi yang lahir secara sectio di kapal RSKKA,” ungkap dr. Agus.

Komitmen Nyata Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi

Keberangkatan RSKKA menegaskan peran strategis perguruan tinggi agar tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan riset, tetapi juga hadir memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat luas. Program bakti sosial kesehatan ini turut mendapat dukungan penuh dari berbagai mitra strategis, termasuk pemerintah daerah dan badan penyelenggara jaminan kesehatan, untuk memperkuat sistem pelayanan di daerah kepulauan terpencil. 

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Dr. Prihati Pujowaskito, menegaskan dukungannya terhadap mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional di daerah 3T. Ia menjelaskan bahwa jika kepala daerah mengeluarkan SK pemetaan Daerah yang Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat (DBTFMS), maka BPJS Kesehatan dapat memberikan layanan kesehatan bergerak dan membayarkan pemanfaatannya sesuai tarif INA-CBG demi menyokong operasional pelayanan bergerak seperti RSKKA.

Sumber Referensi:

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Social

Rabu Pagi di SDN Gajahmungkur 03: Saat Seluruh Sekolah Berhenti untuk Menulis

Setiap Rabu pagi, suasana di SDN Gajahmungkur 03, Semarang, berubah drastis menjadi sunyi. Seluruh warga sekolah—dari siswa kelas satu hingga
Local Hero

Di Balik Kedalaman 12 Meter: Kisah Swietenia Puspa Lestari Melawan Limbah Laut

Sebuah pengalaman tak terlupakan saat menyelam di Kepulauan Seribu mengubah perspektif Swietenia Puspa Lestari tentang tanggung jawab lingkungan. Dari rasa