Local Hero

32 Tahun Menyalakan Pesantren dengan Tenaga Air, Kisah KH Anwar Bangun Listrik Mandiri di Lampung Timur

Pondok Pesantren Baabussalam Al-Amin di Desa Toba, Lampung Timur, telah membuktikan kemandirian energi selama lebih dari tiga dekade melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

Inisiatif swadaya yang digagas pimpinan ponpes ini tidak hanya menerangi ratusan santri, tetapi juga meringankan beban ekonomi puluhan warga sekitar di tengah keterbatasan fasilitas nasional pada masa lalu.

Berawal dari keresahan atas pemadaman listrik PLN yang kerap mengganggu aktivitas belajar santri pada awal tahun 1990-an, KH Anwar Sholeh memutar otak memanfaatkan potensi aliran air di sekitar kawasan perbukitan. Dengan modal jerih payah menjual batu demi membeli material bangunan, sebuah bendungan dan turbin sederhana berhasil didirikan pada 1994, yang kini mampu menghasilkan daya sekitar 15.000 watt untuk menopang kebutuhan energi harian pesantren dan warga.

Inisiatif Mandiri dan Perjuangan Membangun PLTMH

Gagasan membangun pembangkit listrik sendiri lahir dari kondisi kelistrikan masa itu yang tidak menentu, ditambah biaya operasional generator diesel yang terlalu besar bagi pesantren. Bersama warga, KH Anwar memanfaatkan debit air sekitar 50 liter per detik dari aliran sungai untuk diubah menjadi sumber energi alternatif yang berkelanjutan.

Seluruh proses pembangunan dikerjakan secara gotong royong selama kurang lebih tujuh bulan dengan biaya swadaya mencapai Rp 25 juta pada masanya. Konsistensi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar bendungan tersebut bahkan mengantarkan KH Anwar meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 1994 serta apresiasi ibadah haji dari Pemerintah Provinsi Lampung.

“Pada waktu itu listrik PLN sering mati-hidup. Santri sedang belajar tiba-tiba gelap, lalu menyala lagi. Begitu terus. Kami merasa kondisi seperti itu tidak bisa dibiarkan,” kenang Anwar saat menceritakan awal mula pembangunan fasilitas tersebut.

Dampak Sosial dan Harapan Perluasan Jaringan Listrik

Manfaat dari PLTMH berkapasitas 15.000 watt ini turut dirasakan oleh 20 kepala keluarga di sekitar pesantren yang dapat menikmati pasokan listrik setiap pukul 17.00 hingga 06.00 WIB. Kehadiran sumber energi alternatif ini terbukti signifikan dalam memangkas pengeluaran bulanan warga, seperti diakui oleh Jasri yang kini bisa menghemat biaya listrik rumah tangganya secara drastis setiap bulan.

Meski telah beroperasi puluhan tahun, kapasitas pembangkit saat ini masih terbatas oleh kondisi peralatan, terutama pada bagian dinamo. Ke depan, pihak pesantren berharap adanya dukungan dan bantuan teknis agar kapasitas daya dapat ditingkatkan sehingga manfaat terang mandiri ini mampu menjangkau lebih banyak rumah warga di sekitar kawasan pondok.

“Kalau ada bantuan dinamo yang lebih baik, kami ingin menambah daya. Harapan kami sederhana, semakin banyak warga yang bisa ikut menikmati listrik dari pembangkit ini,” pungkas Anwar.

Sumber Referensi:

  • Kompas.com (2026). 32 Tahun Menyalakan Pesantren dengan Tenaga Air, Kisah KH Anwar Bangun Listrik Mandiri di Lampung Timur.
  • Wawancara Khusus Kompas dengan Pimpinan Ponpes Baabussalam Al-Amin (2026). Dokumentasi Sejarah Pembangunan PLTMH Desa Toba.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Local Hero

Di Balik Kedalaman 12 Meter: Kisah Swietenia Puspa Lestari Melawan Limbah Laut

Sebuah pengalaman tak terlupakan saat menyelam di Kepulauan Seribu mengubah perspektif Swietenia Puspa Lestari tentang tanggung jawab lingkungan. Dari rasa
Local Hero Social

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga Berlayar Menuju Kepulauan Sumenep untuk Misi Kemanusiaan

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) milik Universitas Airlangga kembali mengarungi lautan untuk menjalankan misi kemanusiaan dengan memberikan pelayanan kesehatan