Stay Tuned!

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id="448"]
Uncategorized

Menjaga Warisan Leluhur: Ikan Dewa, Penjaga Mata Air yang Kian Langka

Ikan dewa (genus Tor), yang dikenal dengan beragam sebutan lokal seperti ikan batak, ikan semah, hingga kancra bodas, bukan sekadar komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sejak zaman nenek moyang, ikan endemik ini telah menjadi simbol kearifan lokal dalam menjaga kelestarian mata air dan hutan di Indonesia.

Habitat asli ikan dewa berada di sungai-sungai dengan air jernih dan deras yang suhunya terjaga. Ketergantungan ikan ini pada kualitas air yang prima secara tidak langsung membuat keberadaannya menjadi indikator kesehatan lingkungan. Namun, seiring degradasi hutan dan kerusakan ekosistem sungai, ikan ini semakin sulit ditemukan di habitat alaminya dan kini masuk dalam daftar spesies yang terancam punah menurut IUCN.

Simbol Kehormatan dan Kearifan Lokal

Di masyarakat Sunda, ikan ini sering dikeramatkan. Legenda rakyat mengaitkannya dengan penghormatan terhadap sumber air, seperti yang terlihat di kawasan wisata Cibulan, Kuningan. Para kuncen secara turun-temurun mengemban amanah untuk menjaga kelestarian ikan ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pelindung mata air.

Jejak sejarahnya pun tercatat dalam prasasti masa Kerajaan Sunda, seperti Prasasti Jayabupati, yang menetapkan wilayah sungai sebagai kawasan larangan. Tradisi ini merupakan bentuk pengelolaan tata ruang kuno yang bertujuan agar pemanfaatan alam, termasuk penangkapan ikan, dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem sipatahunan (penangkapan tahunan).

Harapan Baru dari Budidaya Semi-Alami

Di tengah ancaman kepunahan, upaya budidaya menjadi titik terang bagi pelestarian ikan ini. Erik Hamdan Nugraha, seorang pembudidaya di Sumedang, Jawa Barat, berhasil mengembangkan model budidaya semi-alami yang mengandalkan aliran air terus-menerus. Sejak memulai pada 2018, ia kini memiliki ratusan indukan dan sukses melakukan pembenihan dengan tingkat keberhasilan di atas 80%.

Selain bernilai konservasi, ikan dewa memiliki nilai ekonomi yang fantastis, mencapai jutaan rupiah per kilogram. Dagingnya yang kaya gizi, bahkan sering disandingkan dengan ikan salmon, menjadikan budidaya ikan ini sebagai peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Konservasi sebagai Kunci Kelangsungan Air

Pakar perikanan dari Universitas Airlangga, Veryl Hasan, mendorong agar budidaya ikan lokal seperti Tor soro dijadikan bagian dari strategi konservasi untuk memperlambat laju kepunahan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa menjaga ikan ini sejatinya adalah upaya menjaga kehidupan itu sendiri.

Menjaga ikan dewa adalah menjaga hutan dan mata air yang menjadi hulu kehidupan. Mengingat krisis akses air bersih global yang semakin nyata, kearifan nenek moyang dalam mengaitkan keberadaan ikan dengan kesucian mata air menjadi pesan relevan yang harus kembali dihidupkan. Jika ikan ini menghilang, mungkin itu adalah tanda bahwa sumber air kita sedang dalam bahaya besar.

Sumber Referensi:

  • Mongabay Indonesia (2023). Ikan Dewa, Pelindung Mata Air Sedari Nenek Moyang.
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian Taksonomi Ikan Endemik Genus Tor.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!
Uncategorized

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini