Stay Tuned!

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id="448"]
Uncategorized

Kopiko di Drama Korea: Strategi Cerdas “Ekspor Terbalik” yang Mendunia

Kehadiran permen Kopiko dalam berbagai drama Korea populer seperti Vincenzo, Hometown Cha-Cha-Cha, hingga Little Women bukanlah sebuah kebetulan. Permen kopi asal Indonesia ini telah menjadi ikon dalam dunia product placement (PPL) global melalui strategi yang dikenal sebagai “ekspor terbalik”.

Alih-alih sekadar berjualan di pasar domestik Korea, produsen Kopiko justru menjadikan drama Korea sebagai panggung promosi untuk menjangkau penonton di seluruh dunia. Melalui platform streaming seperti Netflix, eksposur yang didapatkan merek ini jauh melampaui efektivitas iklan konvensional, menjangkau audiens mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa.

Strategi Iklan yang Berubah

Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam industri K-drama. Jika dahulu penempatan produk harus dilakukan secara tersirat, kini batas antara jalan cerita dan iklan menjadi semakin kabur. Kebutuhan untuk menutup biaya produksi drama yang kian melambung tinggi memaksa industri untuk lebih bergantung pada kerja sama merek.

Penempatan produk Kopiko sering kali dibuat sangat menonjol, dengan sorotan kamera close-up yang memperjelas logo dan bentuk permen. Strategi ini terbukti sangat masif; laporan menyebutkan bahwa pada tahun 2022 saja, Kopiko telah mensponsori setidaknya 15 judul drama Korea dengan anggaran promosi mencapai Rp80 miliar.

Fenomena “Ekspor Terbalik”

Keunikan strategi Kopiko adalah produknya bahkan sempat belum dipasarkan secara resmi di Korea saat pertama kali muncul dalam drama Vincenzo pada 2021. Hal ini menunjukkan bahwa target utama dari iklan tersebut bukanlah penonton Korea, melainkan basis penggemar Hallyu di mancanegara.

Tren ini juga mencerminkan dominasi global konten Korea. Data dari The Korea Times menunjukkan peningkatan drastis dalam keterlibatan merek asing—termasuk dari Tiongkok, Inggris, dan Indonesia—dalam drama Korea yang meningkat hingga lima kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Bagi Kopiko, dari permen yang dulunya hanya dikenal di rak-rak minimarket lokal, ia kini telah bertransformasi menjadi simbol keberhasilan strategi pemasaran lintas budaya. Di masa depan, seiring dengan makin tingginya biaya produksi drama, kita mungkin akan melihat semakin banyak jenama global yang memanfaatkan “manisnya” drama Korea untuk mencuri perhatian dunia.

Sumber Referensi:

  • CNA (2025). Kenapa banyak adegan ngemil permen Kopiko di drama Korea?
  • Republika (2022). Laporan Pemasaran Global Kopiko melalui K-Drama.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!
Uncategorized

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini