Habanero Lokal Racikan IPB: Lima Kali Lebih Pedas dari Cabai Rawit
Cabai habanero lokal racikan Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menarik perhatian dunia pertanian berkat tingkat kepedasannya yang mencapai lima kali lipat dibandingkan cabai rawit biasa. Inovasi hortikultura ini menjadi bukti nyata kemampuan para periset dalam menghasilkan varietas unggul baru yang memiliki daya saing tinggi di pasar agribisnis.
Terobosan Riset Pertanian Unggulan
Kehadiran varietas cabai habanero lokal ini merupakan hasil dari proses pemuliaan tanaman yang dilakukan secara intensif oleh para peneliti di IPB. Melalui seleksi ketat dan rekayasa agronomi yang presisi, tim peneliti berhasil merakit tanaman cabai yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan baik di iklim tropis Indonesia, tetapi juga memiliki karakteristik rasa pedas yang sangat ekstrim.
Ahli Pemuliaan Tanaman IPB University, Prof. Muhamad Syukur, bekerja sama dengan Pemda Bali berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia, yakni Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Inovasi yang dikembangkan sejak 2020 ini menjadi varietas habanero pertama yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian dan mengantongi Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Berbeda dari varietas impor yang rentan, cabai rakitan IPB ini dirancang khusus agar tangguh di iklim tropis serta tahan terhadap serangan hama penyakit keriting kuning.
Unggul di tingkat kepedasan, varietas Tabia Sala 1 IPB bahkan mencatatkan angka ekstrem hingga 1,3 juta Scoville Heat Units (SHU) atau sekitar lima kali lipat lebih pedas dari cabai rawit biasa. Kini, benih keempat varietas tersebut sudah diproduksi secara massal oleh Benih Dramaga untuk diakses para petani. Selain dilirik industri olahan makanan dalam negeri, inovasi ini juga menyimpan potensi ekspor yang besar ke mancanegara, seperti ke Korea Selatan sebagai bahan baku pembuat hot pack untuk musim dingin.
Peluang Komersial dan Industri Kuliner
Varietas baru ini membuka peluang pasar yang sangat luas, khususnya bagi industri pengolahan makanan, produsen saus pedas, serta pelaku usaha kuliner yang membutuhkan bahan baku dengan intensitas rasa pedas tinggi. Dengan tingkat kepedasan yang jauh lebih pekat, penggunaan cabai ini dalam proses produksi dapat menjadi lebih efisien karena takaran yang dibutuhkan relatif lebih sedikit untuk mencapai tingkat kepedasan yang diinginkan. Hal ini tentu memberikan nilai tambah tersendiri bagi para petani yang membudidayakannya, mengingat potensi nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.
Dukungan bagi Ketahanan Pangan dan Petani
Pengembangan habanero lokal racikan IPB ini turut memperkaya ragam varietas tanaman hortikultura yang dapat dibudidayakan di tanah air. Universitas bersama instansi terkait terus mendorong agar benih unggul ini dapat segera disebarluaskan kepada para petani secara merata, disertai dengan pendampingan teknis budidaya yang tepat. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani lokal melalui adopsi teknologi pertanian modern, sekaligus memperkuat kemandirian penyediaan benih hortikultura nasional yang berkualitas tinggi.
Sumber Referensi:
- Tabloid Sinar Tani (2026). Habanero Lokal Racikan IPB Ini 5 Kali Lebih Pedas dari Cabai Rawit.
- Institut Pertanian Bogor (2026). Laporan Inovasi Varietas Unggul Hortikultura Nasional.





