Creative

Dari Klaten ke Swedia, Vocalista Angels Raih Emas dan Gelar Juara World Choir Games 2026

Dua belas tahun setelah terakhir tampil di World Choir Games, Vocalista Angels kembali membawa suara anak-anak Klaten ke panggung dunia. Sebanyak 28 penyanyi muda tampil di Helsingborg, Swedia, dan pulang dengan dua pencapaian sekaligus: Gold Medal pada kategori Children’s Choir serta gelar Champion pada kategori Folklore.

Dari Klaten menuju sebuah kota pesisir di selatan Swedia, 28 penyanyi anak dan remaja membawa repertoar yang sebagian akarnya berasal ribuan kilometer dari panggung tempat mereka berdiri. Lagu seperti Yamko Rambe Yamko, Janger, dan Dara Lumau menjadi bagian dari perjalanan Vocalista Angels di World Choir Games 2026, kompetisi paduan suara internasional yang berlangsung di Helsingborg pada 6–16 Agustus 2026. Ajang yang diselenggarakan INTERKULTUR tersebut mempertemukan paduan suara dari berbagai negara dalam 19 kategori pada dua tingkat kompetisi, yakni Open Competition dan Champions Competition.

Vocalista Angels memilih jalur yang tidak ringan. Kelompok asal Klaten tersebut tampil di Champions Competition, tingkat yang memang ditujukan bagi paduan suara dengan pengalaman dan rekam prestasi internasional. Berdasarkan keterangan manajemen kepada detikJateng, mereka berhasil meraih Gold Medal pada Children’s Choir pada 7 Agustus, lalu sehari kemudian menjadi Champion pada kategori Folklore. Halaman resmi World Choir Games mencatat pada hasil kompetisi bagian pertama, Champions Competition menghasilkan 43 medali emas dan 13 medali perak dari berbagai kategori.

Empat Lagu Membuka Jalan Menuju Medali Emas

Perjalanan prestasi Vocalista Angels dimulai pada kategori Children’s Choir. Mereka membawakan empat komposisi dengan karakter berbeda: Cikala Le Pong Pong, The Waters Dance of Lluvia, A Puppet’s Dream, dan Yamko Rambe Yamko. Kombinasi repertoar tersebut menuntut kemampuan vokal sekaligus perubahan warna, ritme, dan interpretasi dalam satu rangkaian penampilan.

Hasilnya, Vocalista Angels memperoleh Gold Medal. Bagi kelompok yang baru kembali ke World Choir Games setelah absen sejak 2014, medali tersebut memiliki arti lebih dari satu podium. Sebagian besar generasi yang pernah membawa nama Vocalista Angels di kompetisi dunia satu dekade lalu sudah tidak lagi menjadi anggota aktif. Tim 2026 datang sebagai hasil regenerasi panjang. Sebelum berangkat ke Swedia, pendiri dan pembina Vocalista Angels, Catharina Advenita Tersiera Rosa, mengatakan, “Setiap generasi datang dengan tantangan dan ceritanya masing-masing.”

Regenerasi itulah yang membuat pencapaian di Helsingborg terasa penting. Nama kelompoknya sama, tetapi wajah di atas panggung telah berganti. Standar yang diwariskan dari generasi sebelumnya harus dibangun ulang oleh penyanyi yang kini tumbuh di lingkungan dan zaman berbeda.

Janger dan Dara Lumau Membawa Gelar Champion

Sehari setelah mendapat medali emas, Vocalista Angels kembali tampil pada kategori Folklore. Kali ini mereka membawakan Janger dan Dara Lumau, dua karya yang memberi ruang lebih besar untuk menampilkan identitas budaya Indonesia melalui musik, ekspresi, dan penyajian panggung.

Penampilan tersebut membawa Vocalista Angels menjadi Champion Folklore Category, menurut keterangan manajemen kelompok kepada detikJateng. Dengan demikian, hanya dalam dua hari mereka menghasilkan satu Gold Medal dan satu gelar juara kategori.

“Dari Klaten membawa musik dan budaya Indonesia ke panggung dunia,” kata Dianingtyas Widhiastuti dari manajemen Vocalista Angels setelah pencapaian tersebut.

Pemilihan repertoar Nusantara bukan kebetulan. INTERKULTUR sendiri mencatat paduan suara Indonesia memiliki tradisi kuat pada kategori folklore karena kategori tersebut memungkinkan kelompok memperlihatkan keragaman budaya nasional melalui musik. Vocalista Angels termasuk salah satu nama Indonesia yang telah lama tercatat dalam ekosistem kompetisi tersebut.

Bukan Pertama Kali Jadi Juara Dunia

World Choir Games 2026 sebenarnya merupakan bab baru dari perjalanan yang sudah berlangsung lama. Vocalista Angels didirikan di Klaten pada 1997 dan telah mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional selama hampir tiga dekade. Sebelum keberangkatan 2026, kelompok tersebut sudah memiliki dua gelar juara World Choir Games.

Pada World Choir Games 2010 di Shaoxing, China, catatan resmi INTERKULTUR menunjukkan Vocalista Angels memperoleh skor 92,50 dan Gold Medal sekaligus gelar juara pada kompetisi Champions. Dua tahun kemudian di Cincinnati, Amerika Serikat, kelompok ini kembali meraih Gold Medal dan menjadi juara pada kategori Children’s Choir.

Mereka kemudian tampil kembali di World Choir Games 2014 di Riga, Latvia. Setelah itu, Vocalista Angels tidak mengikuti kompetisi tersebut selama 12 tahun. Jeda panjang digunakan untuk regenerasi, sesuatu yang menjadi persoalan permanen bagi paduan suara anak: ketika kemampuan seorang anggota mencapai kematangan, usia juga memastikan ia pada akhirnya harus meninggalkan kelompok.

Comeback Internasional Sudah Dimulai dari Sarawak

Kembalinya Vocalista Angels ke Swedia tidak terjadi secara mendadak. Setahun sebelumnya, mereka lebih dulu menguji generasi baru di International Choir Competition Sarawak 2025, Malaysia.

Hasilnya memberi sinyal kuat. INTERKULTUR mencatat Vocalista Angels memenangkan kategori Youth Choir sekaligus Folklore. Pada kategori Folklore, mereka memperoleh 27,83 poin, yang sekaligus menjadi nilai tertinggi seluruh peserta kompetisi Sarawak tahun tersebut.

Kompetisi tersebut merupakan penampilan internasional pertama mereka setelah sekitar lima tahun tidak mengikuti kompetisi luar negeri. Sekitar 80 persen anggota tim yang tampil saat itu merupakan wajah baru. Konduktor Yason Christy Pranowo menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa generasi baru dapat mempertahankan standar kelompok.

World Choir Games 2026 kemudian menaikkan tingkat tantangannya. Sebelum kompetisi dimulai, Vocalista Angels sudah tercatat di posisi ke-24 dalam ranking INTERKULTUR untuk kategori children’s and youth choirs per Juni 2026. Pada daftar folklore, mereka juga berada di antara kelompok yang tercatat dalam ranking dunia organisasi tersebut.

28 Penyanyi di Balik Satu Suara

Di atas panggung, penonton melihat sebuah paduan suara bergerak dan bernyanyi sebagai satu kesatuan. Di belakangnya, terdapat pekerjaan yang jauh lebih tidak spektakuler: latihan berulang, pembentukan warna suara, pengucapan, dinamika, koreografi, hingga menyamakan napas puluhan orang yang memiliki karakter vokal berbeda.

Tim yang berangkat ke Helsingborg terdiri dari 28 penyanyi anak dan remaja. Yason Christy Pranowo menjadi pelatih sekaligus sosok yang menangani kesiapan musikal, mulai dari teknik vokal, interpretasi, hingga kekompakan. Catharina Advenita Tersiera Rosa mengawal keberlangsungan kelompok, sementara Yohanes Mahardiko dan Dianingtyas Widhiastuti menangani aspek manajemen. Di atas panggung, Devan Allegreza mendukung penampilan sebagai pianis.

Kerja kolektif seperti ini pula yang membuat kompetisi paduan suara berbeda dari pertunjukan vokal individu. Satu penyanyi yang tampil terlalu menonjol justru dapat merusak keseimbangan. Puluhan orang harus terdengar seperti satu instrumen, sementara tetap mempertahankan ekspresi dan karakter masing-masing repertoar. Cukup tidak manusiawi sebagai standar kesempurnaan, sehingga manusia rupanya memilih melatihnya selama berbulan-bulan.

Prestasi yang Lahir dari Daerah

World Choir Games merupakan salah satu kompetisi paduan suara internasional terbesar. INTERKULTUR menggambarkannya sebagai ajang yang menggunakan semangat Olimpiade untuk mempertemukan kelompok dari berbagai negara melalui kompetisi dan pertukaran budaya. Selain lomba, penyelenggara menghadirkan konser persahabatan, lokakarya, serta kegiatan pendidikan sepanjang festival.

Dalam skala sebesar itu, keberhasilan Vocalista Angels membawa dimensi lain. Mereka bukan kelompok yang lahir dari pusat industri musik Jakarta atau lembaga seni di kota metropolitan, tetapi berkembang dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

“Penampilan ini menjadi bukti bahwa talenta dari daerah mampu bersaing dan berprestasi di panggung internasional,” ujar Dianingtyas dalam keterangannya setelah kompetisi.

Pernyataan tersebut terasa semakin masuk akal ketika melihat perjalanan kelompok ini. Dari World Choir Games 2010 dan 2012, kompetisi Vietnam, Sarawak, hingga kembali menjadi juara di Helsingborg, Vocalista Angels bertahan melewati pergantian generasi yang terus terjadi.

Pada akhirnya, dua penghargaan dari Swedia bukan hanya cerita tentang medali yang dibawa pulang. Di belakangnya ada sebuah kelompok yang harus berkali-kali membangun dirinya kembali setiap kali generasi lama tumbuh dewasa dan generasi baru mengambil tempat.

Dua belas tahun setelah penampilan terakhir mereka di World Choir Games, nama Vocalista Angels kembali terdengar di panggung yang sama. Penyanyinya telah berganti, tetapi dari Klaten, suara itu ternyata masih mampu berjalan sangat jauh.

Sumber Referensi:

  • detikJateng (2026). Keren! Vocalista Angels Asal Klaten Jadi Juara World Choir Games 2026.
  • INTERKULTUR (2026). 14th World Choir Games, Helsingborg 2026.
  • INTERKULTUR (2026). World Choir Games 2026 Competition Results – Part I.
  • INTERKULTUR (2025). Sarawak 2025: The Results.
  • INTERKULTUR. Hasil resmi World Choir Games 2010 Shaoxing dan 2012 Cincinnati.
  • Klik Indonesia (2026). Setelah 12 Tahun Absen, Vocalista Angels Klaten Wakili Indonesia di World Choir Games 2026 Swedia.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Creative Culture

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini
Creative Culture

Kopi Aceh Mendunia: Dari Lereng Berkabut ke Meja Kafe Internasional

Di balik aroma secangkir kopi Aceh yang tersaji di kafe-kafe premium Dubai atau Singapura, terdapat jejak panjang dedikasi petani di