Creative Local Hero

Dipilih Jackie Chan Jadi Juri di China, Iko Uwais Duduk di Kursi Penilai Film Aksi Dunia

Dari membangun reputasi lewat pencak silat dan film laga Indonesia, Iko Uwais kini mendapat posisi berbeda di panggung internasional. Aktor asal Indonesia itu dipercaya menjadi juri The 7th Jackie Chan International Action Film Week di Harbin, China, sebuah festival yang memang dibangun untuk memberi penghargaan kepada aktor, stunt performer, koreografer, dan pekerja film aksi dari berbagai negara.

Selama bertahun-tahun, Iko Uwais lebih sering berada di depan kamera sebagai orang yang dinilai: apakah adegan pertarungannya meyakinkan, apakah koreografinya bekerja, dan apakah sebuah film laga mampu membuat penonton percaya pada setiap pukulan yang muncul di layar. Di Harbin, Cina, pada Agustus 2026, posisinya berubah. Ia datang bukan hanya sebagai aktor laga, tetapi sebagai salah satu orang yang ikut memberikan penilaian terhadap karya insan film aksi.

Iko menghadiri The 7th Jackie Chan International Action Film Week yang berlangsung di Harbin pada 10–12 Agustus 2026. Jadwal tersebut sesuai dengan pengumuman resmi National Film Administration China, yang menempatkan festival tersebut setelah penyelenggaraan Sun Island Film Week pada 6–9 Agustus. Kedua acara digelar berurutan sebagai rangkaian festival film musim panas di kota tersebut.

Dari Pemain Film Laga Menjadi Orang yang Memberi Penilaian

Keterlibatan Iko terasa berbeda karena ia mengaku dipilih langsung oleh Jackie Chan untuk duduk sebagai juri. Melalui akun Instagram pribadinya, Iko menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan tersebut.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk dipilih oleh Jackie Chan menjadi juri di Jackie Chan FF,” tulis Iko Uwais, seperti dikutip detikPop.

Bagi Iko, posisi tersebut membawa makna yang cukup besar. Ia datang dari industri film Indonesia yang selama belasan tahun terakhir berhasil membangun identitas kuat dalam genre laga melalui penggunaan pencak silat, koreografi pertarungan jarak dekat, dan gaya aksi yang kemudian mendapatkan perhatian internasional.

Hubungan Iko dengan ekosistem Jackie Chan International Action Film Week sendiri bukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada penyelenggaraan ketiga festival tersebut pada 2017, “Headshot”, film laga Indonesia yang dibintangi Iko, termasuk dalam jajaran film yang ditampilkan dalam program Jackie Chan Action Film Week di Shanghai International Film Festival.

Sembilan tahun kemudian, ia kembali bukan melalui film yang diputar, melainkan dengan duduk di kursi penilai.

Festival yang Dibangun untuk Orang-Orang di Balik Adegan Aksi

Jackie Chan International Action Film Week pertama kali dibentuk pada 2015. Hingga penyelenggaraan ketujuh tahun ini, festival tersebut berkembang menjadi ruang apresiasi yang secara khusus memusatkan perhatian pada film aksi dan orang-orang yang membuat adegan berbahaya di layar dapat terjadi. China News mencatat festival ini tidak hanya mengangkat aktor, tetapi juga stunt performer, pemeran pengganti, hingga koreografer laga yang sering bekerja jauh dari sorotan utama.

Pada edisi 2026, Jackie Chan kembali menekankan bahwa penghargaan dalam festival bukan hanya perkara popularitas. Ia menggunakan istilah “Ironman” untuk menggambarkan semangat pekerja film aksi yang bersedia menghadapi kesulitan, rasa sakit, dan tantangan dalam pekerjaannya.

Jackie juga membuka festival tersebut bagi praktisi film laga dari berbagai negara. “Selama mencintai film aksi dan memiliki kemampuan, panggung ini selalu terbuka,” ujarnya saat memperkenalkan penyelenggaraan edisi ketujuh.

Filosofi itulah yang membuat keterlibatan Iko cukup masuk akal. Ia bukan sekadar aktor yang memainkan karakter dalam film aksi, tetapi juga memiliki latar bela diri dan bekerja dekat dengan proses penciptaan koreografi pertarungan. Dalam genre yang sangat bergantung pada kemampuan tubuh, ritme, kamera, dan keselamatan performer, pengalaman praktis semacam itu memberi sudut pandang berbeda ketika menilai sebuah karya.

Film Aksi Tidak Hanya Milik Aktor yang Wajahnya Terlihat

Salah satu gagasan yang sejak awal dibawa Jackie Chan International Action Film Week adalah memberikan perhatian lebih besar kepada pekerja aksi yang biasanya menghilang di balik nama bintang utama.

National Film Administration China menyebut festival tersebut telah berkembang menjadi salah satu kegiatan film aksi yang memiliki pengaruh internasional di China. Penyelenggara secara konsisten menempatkan profesionalisme, keberanian, ketekunan, dan kualitas pengerjaan adegan aksi sebagai bagian penting dari identitas festival.

Itu juga terlihat dari sosok Jackie sendiri. Sebagian besar identitas sinematiknya lahir dari tradisi ketika aktor, pemeran pengganti, dan tim stunt bekerja sebagai satu sistem. Karena itu, festival yang membawa namanya tidak hanya berfokus pada penghargaan terhadap figur di depan kamera.

Iko berada dalam tradisi kerja yang tidak terlalu jauh berbeda. Film-film laga yang membesarkan namanya dikenal karena pertarungan yang membutuhkan koordinasi sangat rapat antara aktor, koreografer, kamerawan, stunt performer, serta penyunting. Ketika salah satu unsur tidak bekerja, adegan yang seharusnya terasa keras dapat berubah menjadi dua manusia yang terlihat sedang menunggu giliran untuk memukul. Film aksi memang kejam terhadap ketidaktepatan.

Pertemuan dengan Jackie Chan Punya Arti Personal

Di luar agenda penjurian, Iko juga membagikan sejumlah momen bersama Jackie Chan selama berada di China. Salah satunya adalah ketika ia menghubungkan Jackie melalui panggilan video dengan istrinya, penyanyi Audy Item.

Audy kemudian membagikan rasa senangnya setelah berbicara langsung dengan salah satu aktor yang telah lama ia idolakan. “Alhamdulillah bisa VC-an dengan idola, I’m soooo happy,” tulis Audy melalui media sosial, sebagaimana dikutip detikPop.

Iko juga mempertemukan Audy melalui panggilan video dengan aktor Hong Kong Ti Lung, pemain yang dikenal antara lain melalui Drunken Master II. Momen itu menjadi menarik karena Ti Lung merupakan salah satu aktor favorit ibunda Audy.

Di tengah agenda festival yang dipenuhi pembicaraan mengenai film dan aksi, rangkaian pertemuan tersebut memberikan sisi yang lebih personal: seorang aktor Indonesia yang selama bertahun-tahun membangun karier internasional kini berada dalam lingkaran profesional bersama figur-figur yang sebelumnya menjadi bagian dari referensi sinema generasi terdahulu.

Momentum Lain bagi Film Aksi Indonesia

Keterlibatan Iko sebagai juri juga menambah bentuk representasi Indonesia di industri film internasional. Selama ini pencapaiannya lebih sering dibicarakan lewat keterlibatan sebagai aktor dalam produksi Indonesia maupun proyek asing. Kali ini, pengakuan datang dalam bentuk kepercayaan untuk mengevaluasi karya orang lain.

Penyelenggaraan festival sendiri membawa skala internasional. Jackie Chan sejak pengumuman awal secara terbuka mengundang aktor laga, stunt performer, koreografer, dan praktisi dari berbagai negara untuk terlibat. Festival tersebut menjadi bagian dari strategi Harbin menjadikan film bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi juga titik pertemuan antara industri kreatif, pariwisata, dan pertukaran internasional.

Bagi Indonesia, kehadiran seorang praktisi film laga di posisi juri memiliki nilai yang berbeda dengan sekadar tampil sebagai tamu. Kursi juri pada dasarnya merupakan pengakuan bahwa pengalaman dan perspektif seseorang dianggap cukup relevan untuk menentukan karya mana yang layak mendapat apresiasi.

Dari pencak silat menuju set film, dari pemain laga menuju produksi internasional, lalu dari orang yang dinilai menjadi orang yang ikut menilai, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana posisi Iko di industri aksi telah bergerak.

Di Harbin, ia tidak perlu melakukan tendangan atau adegan jatuh dari gedung untuk membawa nama Indonesia. Kali ini, cukup duduk, menonton, dan menentukan siapa yang melakukan semua kegilaan itu dengan paling baik.

Sumber Referensi:

  • detikPop (2026). Iko Uwais Merasa Terhormat Dipilih Jackie Chan Jadi Juri Festival Film di China.
  • National Film Administration China (2026). The 7th Jackie Chan International Action Film Week to Be Held in Harbin.
  • China.org.cn (2026). Harbin to Host Jackie Chan, Sun Island Film Weeks in August.
  • China News Service (2026). Liputan penyelenggaraan The 7th Jackie Chan International Action Film Week.
  • Shanghai International Film Festival (2017). Program Jackie Chan Action Film Week yang menampilkan Headshot.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Creative Culture

Pasca-UNESCO, Tantangan Baru Menjaga Nafas Reyog Ponorogo

Pengakuan UNESCO atas Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah awal bagi pelestarian seni tradisional tersebut. Tantangan sesungguhnya kini
Local Hero

Di Balik Kedalaman 12 Meter: Kisah Swietenia Puspa Lestari Melawan Limbah Laut

Sebuah pengalaman tak terlupakan saat menyelam di Kepulauan Seribu mengubah perspektif Swietenia Puspa Lestari tentang tanggung jawab lingkungan. Dari rasa