Feature Governance

Italia Buka Jalan Cuti untuk Rawat Hewan Sakit, tetapi Belum Jadi Hak Nasional

Hubungan manusia dengan hewan peliharaan mulai memasuki wilayah yang dahulu nyaris tak tersentuh aturan ketenagakerjaan. Di Italia, pekerja pernah memperoleh cuti berbayar untuk membawa anjingnya menjalani perawatan medis. Kini muncul dorongan agar hak serupa diatur secara nasional, meski aturan cuti tiga hari yang ramai diberitakan ternyata belum resmi berlaku bagi seluruh pekerja.

Meminta izin kerja karena anak atau anggota keluarga sakit merupakan sesuatu yang lazim. Namun, bagaimana jika yang membutuhkan operasi mendesak adalah seekor anjing yang tinggal bersama pemiliknya?

Pertanyaan tersebut pernah menjadi perkara serius di Italia. Pada 2017, seorang pegawai perempuan di sebuah universitas di Roma meminta dua hari izin berbayar untuk mendampingi anjingnya menjalani tindakan medis. Ia tinggal seorang diri dan tidak memiliki orang lain yang dapat membawa serta merawat hewan tersebut. Setelah awalnya tidak mendapatkan pengakuan cuti, kasus itu akhirnya menghasilkan preseden penting dengan bantuan organisasi perlindungan hewan LAV.

Hampir satu dekade kemudian, kisah tersebut kembali menjadi bagian dari perdebatan yang lebih besar: apakah merawat hewan peliharaan yang sakit seharusnya menjadi alasan resmi bagi seseorang untuk meninggalkan pekerjaan tanpa kehilangan penghasilan?

Kasus Seekor Anjing yang Mengubah Perdebatan

Kasus 2017 menjadi penting karena persoalannya tidak diperlakukan sekadar sebagai pilihan pribadi antara datang bekerja atau mengurus hewan.

LAV berargumen bahwa hukum Italia mewajibkan pemilik memberikan perawatan yang dibutuhkan hewan. Mengabaikan kebutuhan medis yang mendesak dalam kondisi tertentu dapat bersinggungan dengan ketentuan pidana mengenai penganiayaan atau penelantaran hewan. Dalam kasus pegawai universitas tersebut, kebutuhan untuk membawa anjing menjalani perawatan akhirnya diakui sebagai alasan pribadi dan keluarga yang serius.

Presiden LAV Gianluca Felicetti menyambut keputusan tersebut sebagai “un altro significativo passo in avanti”, atau langkah maju penting lainnya dalam pengakuan terhadap posisi hewan dalam kehidupan keluarga.

Preseden tersebut memang tidak otomatis menciptakan hak cuti bagi seluruh pekerja Italia. Namun, ia menunjukkan bahwa kebutuhan medis hewan dapat diakui sebagai persoalan serius ketika pemilik benar-benar tidak memiliki alternatif lain.

Dari Preseden Menuju Usulan Undang-Undang

Perdebatan kemudian bergerak dari kasus individual menuju parlemen.

Pada 12 Juni 2025, anggota parlemen Italia Devis Dori mengajukan Rancangan Undang-Undang C.2453 yang secara khusus ingin mengubah aturan ketenagakerjaan agar pekerja memiliki hak cuti berbayar ketika hewan peliharaan sakit atau meninggal. Rancangan tersebut kemudian diserahkan kepada Komisi Ketenagakerjaan pada 14 Oktober 2025.

Namun, status resminya penting diperhatikan. Catatan Senat Italia masih menunjukkan bahwa pemeriksaan rancangan itu belum dimulai. Dengan demikian, gagasan cuti untuk merawat hewan memang sudah berada di meja legislator, tetapi belum dapat disebut sebagai hak nasional yang berlaku bagi seluruh pekerja Italia.

Proposal lain yang muncul di Senat bahkan mengusulkan skema dua hari cuti berbayar per tahun untuk kasus kematian atau penyakit berat hewan yang terdokumentasi, dengan syarat hubungan pemilik dan hewan tercatat dalam registrasi resmi. Proposal tersebut juga belum menjadi aturan nasional.

Lalu dari Mana Angka Tiga Hari Berasal?

Sejumlah pemberitaan internasional pada 2026 menyebut pekerja Italia dapat memperoleh hingga tiga hari cuti berbayar per tahun untuk merawat hewan sakit, dengan persyaratan seperti identifikasi hewan dan sertifikat dokter hewan. Klaim tersebut kemudian menyebar ke berbagai media dan menciptakan kesan bahwa Italia telah menerapkan kebijakan nasional baru.

Masalahnya, sumber resmi parlemen Italia menunjukkan gambaran berbeda.

Rancangan undang-undang yang secara eksplisit mengatur cuti untuk penyakit atau kematian hewan masih berada dalam proses legislasi. Sementara proposal lain yang tercatat di Senat menggunakan angka dua hari, bukan tiga hari.

Karena itu, lebih tepat mengatakan Italia telah membuka ruang hukum dan ketenagakerjaan untuk pengakuan kebutuhan merawat hewan, sementara cakupan hak aktual masih dapat bergantung pada kasus tertentu, kontrak kerja, atau kesepakatan kolektif. Menyebut tiga hari sebagai hak universal bagi seluruh pekerja Italia saat ini terlalu jauh melampaui bukti resmi yang tersedia.

Hewan Mulai Dipandang sebagai Bagian dari Keluarga

Terlepas dari perdebatan tentang jumlah hari, perkembangan di Italia memperlihatkan perubahan yang lebih mendasar mengenai kedudukan hewan peliharaan.

Anjing atau kucing tidak lagi selalu dipandang sebagai benda milik seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka semakin ditempatkan sebagai bagian dari struktur keluarga, lengkap dengan kebutuhan kesehatan, biaya perawatan, dan tanggung jawab hukum yang harus ditanggung pemilik.

Perubahan tersebut juga terlihat dari hukum Italia yang memberikan perlindungan terhadap kesejahteraan hewan. Pemerintah bahkan terus memperkuat kebijakan mengenai kesehatan, identifikasi, pengawasan, dan kesejahteraan hewan. Pada 2026, Kementerian Kesehatan Italia kembali memperbarui berbagai mekanisme terkait kesehatan dan kesejahteraan hewan.

Persoalannya kemudian menjadi praktis. Jika negara mewajibkan seseorang bertanggung jawab terhadap hewannya, apa yang terjadi ketika kewajiban tersebut bertabrakan dengan kewajiban datang bekerja?

Kasus 2017 memberi satu jawaban awal. Parlemen kini mencoba mencari jawaban yang dapat berlaku lebih luas.

Microchip dan Surat Dokter Hewan Jadi Pengaman

Dalam berbagai gagasan aturan yang berkembang, hak meninggalkan pekerjaan karena hewan sakit tidak dibayangkan sebagai izin bebas yang cukup dibuktikan dengan mengatakan kucing sedang murung.

Dokumentasi menjadi unsur utama. Proposal legislatif menghubungkan hak cuti dengan registrasi resmi hewan dan bukti bahwa hewan memang tinggal bersama pekerja yang mengajukan izin. Penyakit berat juga harus dapat dibuktikan secara medis.

Pendekatan serupa muncul dalam pemberitaan mengenai skema cuti hewan di Italia, yang menyebut perlunya identifikasi hewan dan sertifikat veteriner untuk membuktikan kondisi medisnya.

Logikanya sederhana: semakin sebuah kebutuhan pribadi diakui sebagai hak ketenagakerjaan, semakin diperlukan mekanisme untuk memastikan hak tersebut digunakan pada kondisi yang memang dimaksudkan.

Bukan Lagi Sekadar Persoalan Pecinta Hewan

Perdebatan mengenai cuti untuk merawat hewan sebenarnya menyentuh wilayah yang lebih luas daripada kesejahteraan anjing dan kucing.

Ia mempertemukan hukum ketenagakerjaan, perubahan struktur keluarga, kewajiban pemilik hewan, serta pertanyaan mengenai sejauh mana dunia kerja harus beradaptasi terhadap kehidupan pribadi pekerja.

Italia belum sampai pada titik memberikan hak nasional tiga hari kepada semua pekerja seperti yang ramai diberitakan. Namun, preseden 2017 dan proposal yang kini berada di parlemen menunjukkan bahwa gagasan tersebut juga bukan lagi sesuatu yang dapat dianggap remeh atau sekadar fasilitas perusahaan yang eksentrik.

Dulu, kalimat “saya tidak masuk karena harus membawa anjing operasi” mungkin terdengar seperti alasan yang membutuhkan kreativitas luar biasa. Di Italia, kalimat semacam itu sudah pernah mendapatkan pengakuan hukum.

Langkah berikutnya adalah menentukan apakah kasus individual tersebut akhirnya akan berkembang menjadi hak yang benar-benar dimiliki seluruh pekerja.

Sumber Referensi:

  • CNN Indonesia (2026). Italia Setujui Cuti Kerja 3 Hari untuk Urus Hewan Peliharaan Sakit.
  • Senato della Repubblica Italia (2025–2026). Atto Camera n. 2453: Modifiche alla legge 8 marzo 2000, n. 53, concernenti l’istituzione di un permesso retribuito per i casi di malattia o morte dell’animale di affezione.
  • LAV – Lega Anti Vivisezione (2017). Per la prima volta in Italia riconosciuto permesso di lavoro per curare cane.
  • Senato della Repubblica Italia (2026). Proposal mengenai cuti berbayar untuk perawatan hewan peliharaan.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Governance

Dari Batavia ke Dili: Perjalanan Panjang 280 Tahun Pegadaian Melintasi Zaman

PT Pegadaian mencatat tonggak sejarah baru dengan membuka kantor cabang internasional pertamanya di Dili, Timor Leste, pada 30 Maret 2026.
Culture Feature Science Technology

Menjelajahi Batas Seni: Google Buka Museum AI Pertama di Dunia

Google resmi meluncurkan Dataland di Los Angeles, sebuah ruang seni yang diklaim sebagai museum pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya