Mengubah Layar Ponsel Menjadi Jendela Literasi: Kisah Guru Loa Kulu
Isnaini, seorang guru di SMPN 10 Loa Kulu, Kalimantan Timur, berhasil mendobrak kejenuhan ruang kelas melalui program literasi kreatif berbasis video. Lewat program “Gerecek”, ia berhasil mengubah kebiasaan siswa yang pasif saat bercerita menjadi penutur yang antusias.
Awalnya, Isnaini merasakan ada yang keliru dalam praktik literasi di kelasnya. Siswa sering kali hanya membacakan ringkasan buku dengan suara datar dan kaku di depan kelas. Tanpa adanya keterlibatan emosional maupun pendengar yang antusias, kegiatan membaca justru terasa seperti beban kewajiban yang membosankan.
Keresahan itu terjawab saat Isnaini memperhatikan keakraban siswanya dengan ponsel. Ia menyadari sebuah celah: siswa jauh lebih luwes berekspresi saat berhadapan dengan kamera ponsel dibandingkan di depan kelas. Dari sinilah lahir inisiatif sederhana yang ia namakan Gerecek (Gerakan Etam Menceritakan Isi Buku). “Etam” sendiri merupakan kata dalam bahasa lokal yang berarti “kita”.
Literasi Kreatif lewat Lensa Kamera
Program Gerecek mengajak siswa membaca buku, lalu mengunggah video diri mereka saat menceritakan kembali isi bacaan tersebut. Pendekatan ini terbukti efektif. Tanpa paksaan kurikulum yang kaku, siswa justru bebas mengeksplorasi kreativitas; ada yang merekam di halaman sekolah, menggunakan properti buku, hingga meniru karakter tokoh dalam cerita.
Bagi Isnaini, video hanyalah jembatan. Fokus utamanya tetap pada esensi membaca, di mana kemampuan bercerita dan semangat literasi secara otomatis ikut meningkat seiring meningkatnya kepercayaan diri siswa di depan kamera.
Pengakuan Nasional untuk Inovasi Daerah
Kerja keras Isnaini dalam mengamati kebutuhan siswanya membuahkan apresiasi nasional. Pada tahun 2025, ia dianugerahi Anugerah GTK, sebuah penghargaan prestisius dari Kementerian Pendidikan bagi guru terbaik di Indonesia. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan tidak selalu datang dari modul seminar atau pelatihan besar, melainkan dari kepekaan guru terhadap realitas siswanya.
“Saya bukan guru yang luar biasa. Saya hanya guru yang tidak mau menyerah pada cara lama jika cara lama tersebut sudah tidak bekerja,” ujar Isnaini dengan rendah hati.
Modal dari Ruang Kelas
Kisah Isnaini membuktikan bahwa di sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota dengan keterbatasan fasilitas, pertanyaan mendasar guru—”apa yang sebenarnya dibutuhkan siswa?”—sering kali menjadi modal inovasi paling berharga. Dengan keberanian untuk beradaptasi, Isnaini tidak hanya berhasil meningkatkan angka literasi, tetapi juga menanamkan kecintaan membaca yang autentik bagi generasi muda di Loa Kulu.
Sumber Referensi:
- RRI.co.id (2025). Inovasi Literasi Guru di Kalimantan Timur: Program Gerecek.
- Tanoto Foundation (2025). Profil Penerima Anugerah GTK: Isnaini.




