Menari Bisa Menjaga Otak Tetap Tajam, tetapi Belum Bisa Disebut Mencegah Demensia
Menari memaksa tubuh dan otak bekerja bersamaan: mengingat urutan, mengikuti musik, menjaga keseimbangan, berkoordinasi dengan orang lain, lalu memperbaiki gerakan ketika salah. Sejumlah penelitian menemukan kombinasi tersebut dapat membantu fungsi kognitif pada usia lanjut. Namun, menyebut tari sebagai cara yang terbukti “mencegah demensia” masih melampaui bukti ilmiah yang tersedia.
Bayangkan seseorang sedang mempelajari sebuah koreografi baru. Matanya memperhatikan instruktur, telinganya mengikuti ketukan musik, otaknya mencoba mengingat urutan, sementara kaki dan tangan harus bergerak pada waktu yang tepat. Ketika salah langkah, ia harus mengoreksi tubuh tanpa kehilangan ritme dan, jika menari bersama kelompok, tetap memperhatikan orang lain.
Aktivitas yang terlihat seperti hiburan itu sebenarnya menuntut banyak sistem otak bekerja sekaligus. Inilah salah satu alasan tari semakin banyak diteliti sebagai aktivitas yang berpotensi mendukung kesehatan kognitif pada usia lanjut. Meta-analisis terhadap 10 studi dengan 984 peserta berusia 55 tahun ke atas yang mengalami mild cognitive impairment atau MCI menemukan terapi tari berkaitan dengan perbaikan pada fungsi kognitif global, memori, fungsi eksekutif, perhatian, bahasa, serta sejumlah indikator kesehatan mental.
Namun, ada perbedaan besar antara membantu mempertahankan fungsi otak dan terbukti mencegah demensia. Yang pertama memiliki dukungan penelitian yang cukup menjanjikan. Yang kedua belum dapat diklaim hanya dari bukti yang tersedia sekarang.
Saat Menari, Otak Tidak Hanya Memerintahkan Kaki Bergerak
Penari dan koreografer Angela Trimbur menggambarkan kompleksitas tersebut ketika membahas hubungan antara tari dan kesehatan otak.
“Ketika kita belajar koreografi, kita meminta otak untuk melakukan begitu banyak hal sekaligus,” kata Trimbur.
Tugas-tugas itu mencakup mengingat gerakan, memproses musik, mengoordinasikan tubuh, memperbaiki kesalahan, dan mempertahankan perhatian. Dengan demikian, kelas tari berbeda dari aktivitas fisik yang seluruh gerakannya telah sangat familiar dan dilakukan hampir secara otomatis.
Lisa Mosconi, ahli neurosains dan Direktur Women’s Brain Initiative di Weill Cornell Medicine, menekankan kombinasi antara aktivitas fisik dan proses belajar tersebut. Weill Cornell sendiri memasukkan aktivitas seperti tari sebagai bentuk latihan yang menarik karena menggabungkan koordinasi, ritme, strategi, dan aktivitas fisik.
“Gerakan baru bukan sekadar olahraga. Ini adalah olahraga ditambah pembelajaran,” ujar Mosconi.
Di situlah tari memiliki karakter yang agak unik. Seseorang bukan hanya menaikkan denyut jantung atau menggerakkan otot, tetapi juga terus memberi otaknya masalah kecil untuk diselesaikan.
Meta-Analisis Menemukan Manfaat pada Hampir 1.000 Peserta
Salah satu bukti yang sering dikutip berasal dari tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2023. Peneliti menggabungkan 10 studi dengan 984 peserta berusia 55 tahun atau lebih yang mengalami MCI, kondisi ketika kemampuan kognitif sudah menurun tetapi belum mencapai tingkat demensia.
Hasil gabungannya menunjukkan intervensi tari berkaitan dengan peningkatan fungsi kognitif global. Manfaat juga terlihat pada memori, fungsi eksekutif, perhatian, dan bahasa. Intervensi yang berlangsung lebih dari tiga bulan cenderung menghasilkan peningkatan kognisi global yang lebih baik daripada program yang lebih singkat.
Efeknya tidak muncul pada semua aspek. Peneliti tidak memperoleh hasil yang meyakinkan untuk kecepatan pemrosesan, kemampuan visuospasial, maupun kualitas hidup. Mereka juga mengakui adanya heterogenitas cukup besar antara penelitian, mulai dari jenis tarian, frekuensi latihan, durasi program, sampai metode pengukuran.
Jadi, kesimpulannya bukan “tari menyembuhkan gangguan kognitif”. Peneliti lebih berhati-hati dengan menyebutnya sebagai intervensi nonfarmakologis pelengkap yang menjanjikan bagi orang lanjut usia dengan MCI.
Meta-analisis lain yang terbit pada 2025 menggabungkan 13 uji acak terkontrol dengan 1.174 peserta, rata-rata berusia sekitar 71 tahun. Penelitian ini menemukan intervensi tari memberikan efek positif yang signifikan tetapi relatif kecil terhadap fungsi kognitif secara keseluruhan. Tari juga berkaitan dengan penurunan gejala depresi.
Sementara itu, tinjauan terhadap orang dengan MCI, penyakit Alzheimer, dan demensia menemukan tari dapat membantu kognisi global, memori, keseimbangan, dan depresi. Namun, dalam analisis tersebut, manfaat pada fungsi eksekutif tidak selalu terlihat.
Perbedaan hasil antara satu penelitian dan lainnya penting karena menunjukkan bahwa efek tari tidak sesederhana “semakin banyak menari, otak semakin kebal dari demensia”.
Jenis tarian, usia peserta, kondisi kesehatan awal, intensitas, durasi latihan, kelompok pembanding, serta tes kognitif yang digunakan dapat menghasilkan kesimpulan berbeda.
Tari Menggabungkan Tiga Hal yang Disukai Otak: Bergerak, Belajar, Bersosialisasi
Pertama, tari adalah aktivitas fisik. Pedoman WHO terbaru mengenai pengurangan risiko demensia yang diterbitkan pada Juli 2026 memasukkan peningkatan aktivitas fisik sebagai salah satu strategi berbasis bukti untuk menurunkan risiko penurunan kognitif dan demensia sepanjang hidup.
Kedua, tari mengandung stimulasi kognitif. Koreografi baru menuntut pembelajaran dan memori, dua hal yang juga masuk dalam pendekatan WHO untuk menjaga kesehatan kognitif. WHO turut merekomendasikan stimulasi kognitif dan keterlibatan sosial pada orang dengan kognisi normal maupun mereka yang mengalami MCI.
Ketiga, banyak bentuk tari merupakan aktivitas sosial. Seseorang berinteraksi dengan pasangan, instruktur, atau kelompok. Ini relevan karena isolasi sosial termasuk salah satu faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi menurut WHO.
Satu kelas tari dengan demikian dapat menyentuh beberapa faktor sekaligus. Lumayan efisien untuk aktivitas yang pada dasarnya meminta manusia mendengarkan musik sambil berusaha tidak menginjak kaki orang lain.
Gerakan Baru Memaksa Otak Terus Beradaptasi
Konsep lain yang sering muncul dalam pembahasan tari dan kesehatan otak adalah neuroplastisitas, yaitu kemampuan sistem saraf berubah dan beradaptasi sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran.
Weill Cornell menjelaskan olahraga mendukung proses yang berkaitan dengan kesehatan otak, sedangkan aktivitas yang sekaligus membutuhkan koordinasi, ritme, dan strategi seperti tari memberi tantangan tambahan dibanding gerakan yang sepenuhnya repetitif.
Karena itu, mempelajari gerakan baru kemungkinan lebih menarik secara kognitif daripada hanya mengulang koreografi yang sudah dikuasai selama bertahun-tahun.
Trimbur menggambarkannya dari sudut pandang penari.
“Mereka terus belajar. Mereka terus hidup dalam kejutan,” ujarnya mengenai orang yang tetap bersemangat ketika bertambah tua.
Poinnya bukan bahwa otak membutuhkan gerakan sulit setiap hari. Tantangannya adalah tidak membiarkan tubuh dan pikiran sepenuhnya hidup dalam mode otomatis.
Lalu, Apakah Menari Bisa Mencegah Demensia?
Sebuah umbrella review yang terbit pada 2025 menggabungkan 10 tinjauan sistematis mengenai tari pada lansia dengan MCI atau demensia. Secara keseluruhan, hasilnya menunjukkan potensi manfaat pada fungsi kognitif. Namun, para peneliti menilai kualitas bukti secara keseluruhan masih lemah: tiga tinjauan dinilai berkualitas sangat rendah dan tujuh lainnya berkualitas rendah.
Banyak penelitian juga menilai perubahan skor kognitif setelah beberapa minggu atau bulan intervensi. Itu berbeda dengan mengikuti ribuan orang selama bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa kelompok yang menari benar-benar mengalami lebih sedikit kasus demensia dibanding kelompok lain.
Karena itu, kalimat yang lebih tepat adalah: menari berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif dan dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang menurunkan risiko demensia, bukan bahwa menari telah terbukti mencegah demensia.
Demensia Tidak Memiliki Satu Tombol Pencegahan
Pedoman WHO 2026 memperkirakan hingga sekitar 45 persen risiko demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat dimodifikasi. Daftarnya jauh lebih luas daripada olahraga: aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, isolasi sosial, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, gangguan pendengaran, pola makan, hingga paparan polusi udara ikut menjadi perhatian.
Artinya, seseorang tidak dapat mengimbangi hipertensi yang tidak terkontrol, merokok, kurang tidur, atau isolasi sosial hanya dengan datang ke kelas salsa dua kali seminggu lalu berharap otaknya menganggap semua persoalan selesai.
Menari lebih masuk akal ditempatkan sebagai salah satu komponen dari gaya hidup yang mendukung kesehatan otak.
Ryan Glatt dari Pacific Neuroscience Institute juga menyarankan aktivitas fisik dibuat beragam. Tari dapat dipadukan dengan latihan kekuatan, latihan aerobik, yoga, olahraga raket, atau aktivitas lain yang melatih kemampuan tubuh dengan cara berbeda.
Tak Perlu Menunggu Tua untuk Mulai Bergerak
Mosconi terutama menekankan pentingnya membangun kebiasaan menjaga kesehatan otak sebelum seseorang mencapai usia lanjut. Penelitiannya banyak berfokus pada perempuan dan perubahan otak sekitar masa menopause. Dalam wawancaranya dengan Harper’s Bazaar, ia menyebut transisi menopause sebagai periode penting untuk memperhatikan kesehatan otak.
Namun, prinsip yang lebih luas berlaku bagi siapa saja. Aktivitas fisik, belajar keterampilan baru, menjaga hubungan sosial, dan mengelola faktor kesehatan kardiovaskular lebih berguna jika menjadi kebiasaan jangka panjang daripada proyek panik setelah seseorang mulai sering lupa menaruh kunci.
Dan untuk menari, seseorang tidak harus menjadi penari profesional.
Kelas tari, mengikuti koreografi baru, berdansa bersama pasangan, atau mencoba jenis gerakan yang belum pernah dipelajari sudah menggabungkan unsur yang membuat tari menarik bagi penelitian kesehatan otak: bergerak, mengingat, beradaptasi, dan berinteraksi.
Bukan Obat Ajaib, tetapi Aktivitas yang Sulit Diabaikan
Ilmu pengetahuan belum memberikan izin untuk memasang tulisan “anti-demensia” di pintu studio tari. Bukti yang ada belum sampai sejauh itu.
Namun, hasil berbagai meta-analisis bergerak ke arah yang cukup konsisten: tari dapat membantu sejumlah aspek fungsi kognitif pada orang lanjut usia dan mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat terhadap keseimbangan dan gejala depresi.
Keunggulannya mungkin justru datang karena tari tidak terasa seperti satu jenis latihan. Dalam beberapa menit, seseorang dapat berolahraga, menghafal, mengikuti musik, mengambil keputusan, salah, memperbaiki kesalahan, tertawa, dan berinteraksi dengan orang lain.
Semua itu tidak menjamin seseorang tidak akan pernah mengalami demensia.
Tetapi jika tujuan besarnya adalah menjaga tubuh tetap bergerak, otak tetap belajar, dan kehidupan sosial tetap hidup seiring bertambahnya usia, menari merupakan salah satu pilihan yang memiliki dasar ilmiah cukup menarik untuk terus dilakukan.
Dan kalau ternyata seseorang juga akhirnya mampu mengikuti irama, anggap saja itu bonus.
Sumber Referensi:
- Kompas.com (2026). Studi Menyebut Menari dapat Mencegah Demensia.
- Harper’s Bazaar (2026). Can Ballet Help in the Fight Against Alzheimer’s?
- Wu, V.X. et al. (2023). Effects of dance therapy on cognitive and mental health in adults aged 55 years and older with mild cognitive impairment: a systematic review and meta-analysis.





