Local Hero

Dari D3 ke Taiwan lalu Italia, Ridha Buktikan Beasiswa Bukan Hanya untuk Mahasiswa ‘Sempurna’

Perjalanan akademik Ridha Bahrul Ulum tidak langsung dimulai dari universitas luar negeri. Ia lebih dulu menempuh D3 di Indonesia, kemudian melanjutkan S1 di Taiwan lewat beasiswa parsial dan kini menempuh S2 di University of Padua, Italia, dengan dukungan beasiswa regional. Pengalamannya menunjukkan bahwa mencari beasiswa lebih banyak membutuhkan arah yang jelas, jejaring, dan ketekunan membaca peluang.

Banyak cerita penerima beasiswa luar negeri dimulai dengan daftar prestasi panjang, skor bahasa tinggi, atau universitas bergengsi sejak jenjang pertama. Perjalanan Ridha Bahrul Ulum bergerak melalui jalur yang lebih bertahap. Setelah menyelesaikan D3 di Indonesia, ia mencari kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana dan akhirnya berangkat ke Taiwan.

Ridha menempuh S1 di Cheng Shiu University, Kaohsiung, pada bidang Industrial Engineering and Management. Kampus tersebut memang memiliki Department of Industrial Engineering and Management serta berbagai skema penerimaan mahasiswa internasional. Cheng Shiu University juga cukup aktif menerima mahasiswa Indonesia melalui program pertukaran dan kerja sama pendidikan internasional.

Kesempatan itu awalnya terasa seperti satu pintu yang harus dicoba daripada sesuatu yang sudah pasti berhasil. “Alhamdulillahnya keterima lah di Taiwan,” kata Ridha kepada Kompas.com. Penerimaan itu kemudian menjadi awal perjalanan akademik yang membawanya dari Asia Timur menuju Eropa.

Dari Diploma, Ridha Tidak Berhenti di Jenjang D3

Setelah menyelesaikan pendidikan diploma di Indonesia, Ridha mengikuti program yang membuka kesempatan bagi lulusan D3 untuk melanjutkan studi sarjana di luar negeri. Ia mendapatkan beasiswa parsial untuk menempuh pendidikan di Cheng Shiu University.

Pengalaman Ridha juga memperlihatkan bahwa jalur menuju kuliah internasional tidak selalu harus dimulai sejak lulusan SMA. Mahasiswa diploma masih dapat mencari skema lanjutan, transfer kredit, program kerja sama, maupun penerimaan internasional sesuai ketentuan masing-masing kampus dan pemberi beasiswa.

Cheng Shiu University sendiri memiliki program sarjana Industrial Engineering and Management dan telah membangun unit khusus untuk mendukung mahasiswa internasional, mulai dari kehidupan kampus hingga program kerja sama industri. Kampus tersebut juga mencatat mahasiswa Indonesia sebagai salah satu kelompok yang aktif mengikuti program internasionalnya.

Yang berubah setelah berhasil ke Taiwan bukan hanya negara tempat Ridha belajar. Ia juga mulai mengetahui bahwa dunia beasiswa memiliki jauh lebih banyak jalur daripada yang biasanya terlihat dari media sosial.

Setelah Taiwan, Pintu Berikutnya Ada di Italia

Setelah menyelesaikan S1, Ridha kembali mencari peluang untuk melanjutkan pendidikan. Kali ini tujuannya berpindah ribuan kilometer ke Eropa. Ia berhasil melanjutkan S2 di Università degli Studi di Padova atau University of Padua, Italia.

Ridha menyebut dukungan yang diperolehnya sebagai beasiswa Diritto allo Studio Universitario (DSU). Istilah tersebut perlu sedikit dijelaskan agar tidak menyesatkan. DSU secara harfiah merujuk pada hak untuk memperoleh pendidikan universitas, dan di Italia digunakan dalam sistem bantuan pendidikan yang dikelola secara regional.

Untuk University of Padua, beasiswa regional tersedia bagi mahasiswa yang memenuhi persyaratan ekonomi dan akademik, termasuk mahasiswa internasional. Program tersebut berada dalam kerangka kebijakan Diritto allo Studio Universitario dan terkait dengan Regione del Veneto serta universitas. Jadi, lebih tepat menyebutnya beasiswa regional berbasis kebutuhan ekonomi dan prestasi akademik, bukan satu program nasional tunggal bernama “Beasiswa DSU Italia”.

University of Padua juga memiliki berbagai skema bantuan lain bagi mahasiswa internasional, termasuk pembebasan biaya dan Padua International Excellence Scholarship. Namun, skema itu berbeda dengan regional scholarship yang digunakan Ridha. Manusia rupanya belum puas membuat proses beasiswa rumit, sehingga nama program yang terdengar mirip pun tetap perlu dibedakan dengan teliti.

Tips Pertama Ridha: Berhenti Mencari Semuanya Sekaligus

Setelah berhasil belajar di dua negara, Ridha justru tidak memulai sarannya dari persoalan IPK, IELTS, atau membuat CV sepanjang kitab. Menurutnya, masalah pertama banyak calon mahasiswa adalah terlalu banyak pilihan.

Media sosial membuat informasi beasiswa semakin mudah ditemukan, tetapi sekaligus menghadirkan puluhan negara, universitas, jurusan, dan program dalam satu layar. Akibatnya, seseorang dapat menghabiskan banyak waktu menyimpan informasi tanpa benar-benar memulai satu aplikasi.

“Menurutku kita penting banget buat nentuin salah satu dulu kita pengen ke mana. Kita spesifikan dulu aja,” ujar Ridha.

Strategi itu terdengar sederhana, tetapi praktis. Setelah negara dan kampus dipersempit, persyaratan yang harus dikejar menjadi lebih konkret: apakah membutuhkan IELTS atau TOEFL, berapa nilai minimum akademik, apakah perlu surat rekomendasi, dokumen finansial, portofolio, atau pengalaman organisasi.

University of Padua, misalnya, memiliki persyaratan dan prosedur berbeda antara regional scholarship, program excellence, serta dukungan bagi mahasiswa internasional. Calon mahasiswa yang hanya mencari kata “beasiswa Italia” akan berhadapan dengan banyak program yang sebenarnya memiliki aturan berbeda.

Organisasi Bukan Sekadar Tambahan Isi CV

Tips kedua Ridha justru berada di luar ruang kuliah: aktif membangun jejaring, Ia menyarankan calon mahasiswa mengikuti organisasi, komunitas, kegiatan sosial, atau forum yang memungkinkan mereka bertemu dengan orang lain yang memiliki pengalaman pendidikan berbeda. “Aktif organisasi ataupun membuka jejaring dari mana pun,” kata Ridha.

Nilai organisasi dalam konteks ini bukan hanya sertifikat kepanitiaan untuk ditambahkan ke CV. Lingkungan semacam itu dapat menjadi jalur informasi. Seseorang bisa mengetahui program yang sebelumnya tidak pernah muncul di pencarian, mendapatkan gambaran pengalaman seleksi, hingga bertemu alumni yang memahami detail kehidupan di negara tujuan.

Pengalaman Ridha sendiri kemudian berkembang lebih jauh dari sekadar penerima beasiswa. Jejak publiknya menunjukkan ia ikut terlibat dalam ekosistem informasi pendidikan internasional, termasuk kegiatan PPI Dunia yang mengumpulkan informasi beasiswa dari berbagai kawasan untuk mahasiswa Indonesia.

Dengan kata lain, jaringan yang awalnya membantu seseorang menemukan peluang pada akhirnya dapat berubah menjadi jaringan yang membantu orang lain memperoleh peluang serupa.

Datang ke Pameran Pendidikan, Jangan Hanya Mengandalkan TikTok

Ridha juga menyarankan calon mahasiswa menghadiri pameran pendidikan, education fair, seminar kampus, dan kegiatan sejenis.

Alasannya cukup masuk akal. Informasi dari media sosial sering dipotong menjadi konten singkat. Sebuah video dapat menjelaskan “kuliah gratis di Italia” dalam 30 detik, tetapi kemungkinan besar tidak sempat menjelaskan dokumen kondisi ekonomi keluarga, persyaratan akademik, tenggat aplikasi universitas, prosedur ISEE/ISEE Parificato, dan perbedaan antara satu jenis beasiswa dengan lainnya.

“Sering-sering aja sih ikut, biar bisa dapetin informasi yang lebih valid,” ujar Ridha mengenai pameran beasiswa.

Contohnya terlihat pada regional scholarship University of Padua. Untuk tahun akademik 2026/2027, calon penerima harus memperhatikan persyaratan akademik dan ekonomi, sementara mahasiswa internasional memiliki prosedur khusus dalam pembuktian kondisi finansial keluarga.

Informasi semacam itu sulit digantikan hanya oleh daftar “10 beasiswa paling gampang” yang entah mengapa selalu bertebaran di internet.

Beasiswa Tidak Selalu Berarti Semua Biaya Ditanggung

Perjalanan Ridha juga menunjukkan pentingnya memahami jenis pembiayaan. Saat melanjutkan pendidikan S1 di Taiwan, ia menggunakan beasiswa parsial, sehingga tidak seluruh kebutuhan otomatis dibayar penyelenggara. Ini berbeda dengan sejumlah program yang dapat menanggung biaya pendidikan dan tunjangan hidup secara lebih luas.

Taiwan sendiri saat ini mempunyai program resmi Ministry of Education Taiwan Scholarship untuk mahasiswa internasional yang mendaftar S1, S2, dan S3. Untuk Indonesia, informasi program 2026 diumumkan melalui Divisi Pendidikan Taipei Economic and Trade Office dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Namun, program tersebut adalah skema tersendiri dan tidak boleh otomatis disamakan dengan jalur yang digunakan Ridha pada masa S1 hanya karena sama-sama berada di Taiwan.

Begitu pula di Italia. University of Padua memiliki regional scholarship, Padua International Excellence Scholarship, bantuan khusus mahasiswa internasional, dan program lain dengan komponen pembiayaan berbeda.

Karena itu, kata “beasiswa” baru menjadi berguna setelah calon mahasiswa mengetahui pertanyaan berikutnya: beasiswa menanggung apa?

Strateginya: Satu Tujuan, Lalu Pecah Menjadi Persyaratan Kecil

Dari pengalaman Ridha, proses kuliah luar negeri tampaknya lebih mudah dibaca jika dibalik. Jangan memulai dari pertanyaan terlalu luas seperti “bagaimana caranya dapat beasiswa luar negeri?”. Mulailah dari satu tujuan konkret: negara mana, kampus mana, jurusan apa, dan program pendanaannya apa.

Setelah itu, masalah besar berubah menjadi daftar pekerjaan yang lebih kecil. Jika membutuhkan kemampuan bahasa, persiapkan tes. Jika meminta surat rekomendasi, bangun hubungan akademik dengan dosen. Jika seleksinya mempertimbangkan pengalaman organisasi, jangan baru mencari organisasi tiga hari sebelum deadline. Jika beasiswanya berbasis kondisi ekonomi seperti sebagian skema regional Italia, pelajari dokumen finansial sejak awal.

Ridha menunjukkan model tersebut melalui perjalanannya sendiri. D3 tidak membuat jalannya berhenti. Beasiswa parsial di Taiwan tidak membuatnya berhenti mencari pembiayaan lain. Setelah S1 selesai, ia mengulang proses pencarian dan akhirnya melanjutkan ke Italia.

Yang Dibutuhkan Bukan Mengetahui Semua Beasiswa

Ada kecenderungan calon mahasiswa mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum mulai mendaftar. Folder penuh PDF, tangkapan layar, akun pemberi informasi beasiswa, dan tabel deadline akhirnya terbentuk, sementara aplikasi pertama belum juga dikirim.

Sebaliknya, Ridha menyarankan agar hanya menetapkan satu pilihan. Bangun jaringan. Datangi sumber informasi yang lebih dekat dengan kampus atau pemberi beasiswa. Setelah itu, baru persiapkan persyaratan secara terarah.

Perjalanannya dari D3 di Indonesia menuju S1 di Taiwan dan S2 di Italia tidak menunjukkan bahwa proses memperoleh beasiswa mudah. Justru ia memperlihatkan bahwa perjalanan akademik dapat dibangun sedikit demi sedikit, tanpa harus memiliki seluruh jawabannya sejak awal.

Pada akhirnya, calon penerima beasiswa tidak harus mengetahui semua program di dunia. Mereka hanya perlu menemukan satu program yang tepat, memenuhi syaratnya, lalu benar-benar mengirimkan aplikasi.

Sumber Referensi:

  • Kompas.com (2026). Tips Sukses Ridha, Bisa Kuliah S1-S2 di Luar Negeri Pakai Beasiswa.
  • University of Padua (2026). Informasi resmi Regional Scholarships 2026/2027 dan dukungan bagi mahasiswa internasional.
  • Cheng Shiu University. Informasi Department of Industrial Engineering and Management serta program mahasiswa internasional.

newsantara

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Local Hero

Di Balik Kedalaman 12 Meter: Kisah Swietenia Puspa Lestari Melawan Limbah Laut

Sebuah pengalaman tak terlupakan saat menyelam di Kepulauan Seribu mengubah perspektif Swietenia Puspa Lestari tentang tanggung jawab lingkungan. Dari rasa
Local Hero

32 Tahun Menyalakan Pesantren dengan Tenaga Air, Kisah KH Anwar Bangun Listrik Mandiri di Lampung Timur

Pondok Pesantren Baabussalam Al-Amin di Desa Toba, Lampung Timur, telah membuktikan kemandirian energi selama lebih dari tiga dekade melalui Pembangkit