Aerostreet Rilis Toleranshoes, Enam Pemuka Agama Berjalan Bersama dalam Kampanye Kemerdekaan
Alih-alih kembali memainkan warna merah-putih untuk menyambut 17 Agustus, Aerostreet memilih tema yang lebih sensitif sekaligus lebih sulit diterjemahkan ke sebuah produk: toleransi. Lewat Toleranshoes, merek sepatu asal Klaten itu mempertemukan enam pemuka agama, batik, simbol gotong royong, dan penghormatan kepada veteran dalam satu kampanye.
Sepatu edisi Hari Kemerdekaan biasanya memiliki formula yang relatif mudah ditebak. Merah, putih, angka 17 atau 1945, lalu sedikit elemen nasionalisme sebagai pelengkap. Aerostreet memilih jalur berbeda untuk perayaan 81 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2026. Produk terbarunya tidak didominasi merah-putih, tetapi membawa nama Toleranshoes, gabungan kata tolerance dan shoes yang digunakan sebagai simbol berjalan bersama di tanah yang sama.
Toleranshoes dirilis pada Senin, 17 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Produk dibuat sangat terbatas, hanya 1.945 pasang, dengan harga Rp81.900. Dua angka itu sengaja mengambil referensi tahun Proklamasi 1945 dan usia kemerdekaan Indonesia pada 2026.
Di balik produknya, Aerostreet membangun kampanye yang menempatkan enam pemuka agama dalam satu bingkai: habib, bhante, pendeta, romo, jiao sheng, dan pemuka Hindu. Pesannya sederhana, meski urusan menerapkannya dalam kehidupan sosial Indonesia sering jauh lebih rumit daripada memilih ukuran sepatu.
Ide Lahir Justru Saat Tim Kehabisan Ide
Chief Branding Officer Aerostreet Shannon Symphony Caesarico mengakui konsep tersebut tidak muncul sejak awal. Tim justru sempat mengalami kebuntuan ketika mencari gagasan kampanye kemerdekaan yang tidak terasa mengulang apa yang sudah dilakukan banyak merek.
Shannon bahkan menghabiskan waktu mengamati orang berlalu-lalang di kantor sambil mencari sesuatu yang cukup kuat untuk dijadikan ide. Sempat muncul nama “Solidaritas”, permainan antara kata sol dan solidaritas, tetapi konsep tersebut dianggap terlalu bergantung pada permainan kata.
Titik baliknya muncul ketika pembahasan beralih dari sepatu menuju orang-orang yang mengenakannya. Dari sana lahir gagasan mempertemukan pemuka dari sejumlah agama dalam satu kampanye.
“Sebelum kita sibuk melihat apa yang membedakan kita, kita ini kan sama-sama Indonesia,” kata Shannon kepada Kompas.com.
Ia menghubungkan gagasan itu dengan sejarah perjuangan kemerdekaan yang melibatkan masyarakat dari latar belakang, wilayah, dan keyakinan berbeda. Toleranshoes kemudian diarahkan bukan sekadar menjadi produk bertema nasional, tetapi media untuk mengingatkan bahwa identitas Indonesia tidak pernah dibangun dari satu kelompok saja.
Enam Pemuka Agama Bukan Sekadar Properti Kampanye
Kehadiran enam tokoh agama menjadi elemen paling mencolok dari kampanye. Menurut Aerostreet, mereka tidak dipilih hanya untuk menghasilkan visual yang mudah viral, melainkan sebagai representasi keberagaman umat beragama di Indonesia.
Pendekatan tersebut juga membedakan Toleranshoes dari beberapa kolaborasi Aerostreet sebelumnya. Merek asal Klaten itu memang memiliki sejarah menggunakan kolaborasi sebagai strategi komunikasi. ANTARA mencatat Aerostreet pernah bekerja dengan berbagai merek dan figur lokal, sementara kolaborasinya bersama Wonderful Indonesia pada 2024 menghasilkan katalog “Nusantara” yang merepresentasikan enam wilayah budaya dan mencatat penjualan 20.000 pasang dalam sepuluh menit.
Situs resmi Aerostreet menyebut perusahaan berdiri pada 2015 dengan visi membuat sepatu yang dapat dijangkau berbagai lapisan masyarakat melalui slogan “Now everyone can buy a good shoes.” Basis produksinya berada di Klaten, Jawa Tengah.
Dengan Toleranshoes, pola kolaborasi itu bergeser. Yang ditempatkan berdampingan bukan dua merek atau figur populer, melainkan simbol-simbol keagamaan yang dalam kehidupan sehari-hari sering justru dibicarakan secara terpisah.
Langit Biru, Emas Gotong Royong, dan Batik
Pesan toleransi kemudian diterjemahkan ke dalam desain sepatu. Aerostreet menggunakan warna biru untuk menggambarkan langit Indonesia yang menaungi masyarakat tanpa membedakan identitas mereka. Sentuhan emas digunakan sebagai simbol nilai gotong royong dan persatuan.
Elemen lain yang dimasukkan adalah batik. Alih-alih memilih motif yang terlalu identik dengan satu daerah, tim menggunakan pendekatan yang menurut mereka lebih umum sehingga dapat membawa pesan kebudayaan Indonesia secara lebih luas.
“Detail batiknya ini juga menurut aku penting banget,” ujar Shannon.
Pilihan batik juga konsisten dengan jejak desain Aerostreet sebelumnya. Dalam kolaborasi “Nusantara”, perusahaan pernah menggunakan beragam motif regional, termasuk gorga dari Sumatra dan batik tujuh rupa Pekalongan, untuk memberi identitas budaya pada produknya.
Namun, pada Toleranshoes, elemen budaya ditempatkan sebagai pengikat, bukan fokus utama. Cerita produknya tetap bertumpu pada gagasan bahwa perbedaan agama tidak menghapus fakta bahwa masyarakat berjalan di ruang kebangsaan yang sama.
Hanya 1.945 Pasang, Meski Permintaan Bisa Lebih Besar
Aerostreet sengaja membatasi produksi Toleranshoes sebanyak 1.945 pasang. Jumlah tersebut tidak direncanakan berubah sekalipun respons pasar nantinya melampaui stok.
Dalam dunia produk terbatas, langkah seperti ini tentu juga menciptakan kelangkaan yang dapat meningkatkan perhatian konsumen. Namun, Shannon mengatakan alasan internalnya adalah menjaga hubungan antara produk dengan cerita yang sedang dibangun.
“Begitu diubah, the story would be gone,” kata Shannon mengenai kemungkinan menambah jumlah produksi.
Menurutnya, jika angka 1.945 tiba-tiba diganti menjadi 3.000 atau 5.000 hanya karena produk laku, simbol yang menjadi dasar kampanye akan kehilangan makna. Aerostreet memang sebelumnya cukup akrab dengan strategi produk kolaborasi dan edisi terbatas. ANTARA mencatat pendekatan kolaborasi sudah menjadi salah satu strategi merek tersebut sejak beberapa tahun sebelumnya.
Harga Rp81.900 juga menggunakan pola simbolis serupa. Angka 81 merujuk usia Indonesia sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 hingga 2026.
Dari Produk Kemerdekaan Menuju Seorang Veteran
Toleranshoes tidak berhenti pada visual enam pemuka agama. Aerostreet menyatakan seluruh hasil penjualan produk tersebut akan dialokasikan kepada seorang veteran bernama Abah Anang, yang telah berusia lebih dari 100 tahun dan tinggal di daerah yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Bandung.
Di sinilah kampanye tersebut mencoba menghubungkan dua gagasan yang biasanya berjalan sendiri-sendiri saat Agustus: kemerdekaan sebagai simbol persatuan dan keadaan para veteran setelah perayaan selesai.
Shannon berharap perhatian publik terhadap kampanye membuat orang mulai memikirkan kehidupan mereka yang dahulu terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.
Aerostreet juga membuka jalur bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan tambahan kepada Abah Anang melalui koordinasi dengan tim perusahaan. Dengan demikian, dana yang disalurkan tidak hanya bergantung pada penjualan 1.945 pasang sepatu.
Sebelumnya, kegiatan sosial juga bukan wilayah yang sepenuhnya asing bagi Aerostreet. Pada 2024, misalnya, perusahaan bekerja sama dalam pemberian 1.100 pasang sepatu kepada siswa kurang mampu di Surakarta. Ketika itu program tersebut dijalankan sebagai bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.
Fashion Bisa Menjadi Media, tetapi Pesannya Harus Lebih Panjang dari Umur Kampanye
Tentu sebuah sepatu tidak akan menyelesaikan persoalan intoleransi. Enam pemuka agama berfoto bersama juga tidak otomatis menghapus gesekan sosial yang telah berkembang bertahun-tahun. Membebankan pekerjaan sebesar itu kepada sneakers senilai Rp81.900 bahkan terdengar agak tidak adil kepada benda mati.
Namun, produk budaya memiliki kemampuan lain: membuat sebuah gagasan masuk ke ruang yang biasanya tidak membicarakannya.
Toleransi tidak hanya muncul dalam seminar, pidato pemerintah, atau forum lintas agama. Kali ini ia ditempelkan pada sesuatu yang sangat sehari-hari, yaitu alas kaki. Orang mungkin pertama kali tertarik karena desain atau jumlahnya terbatas, kemudian bertemu dengan cerita mengenai enam agama dan veteran yang berada di belakang produk.
Di situlah keberhasilan kampanye semacam ini seharusnya diukur lebih jauh dari angka penjualan.
“Bukan cuma 1.945 pasang sepatu habis terjual,” tegas Shannon.
Baginya, kampanye baru dianggap berhasil jika setelah melihat Toleranshoes, orang sedikit lebih menghargai perbedaan dan kembali mengingat veteran yang pernah memperjuangkan kemerdekaan.
Pesan itu menjadi bagian paling menarik dari keseluruhan proyek. Sebab menjual 1.945 pasang sepatu mungkin dapat selesai dalam hitungan menit. Membuat 1.945 pembelinya membawa gagasan toleransi setelah kotak sepatu dibuka jelas merupakan pekerjaan yang jauh lebih sulit.
Dan barangkali memang itu filosofi paling tepat bagi sebuah produk bernama Toleranshoes: perbedaan tidak harus dibuat seragam. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama.
Sumber Referensi:
- Kompas.com (2026). Cerita Aerostreet Rilis Toleranshoes, Gandeng 6 Pemuka Agama.
- Aerostreet. Profil resmi perusahaan dan jaringan penjualan resmi.





